Jumat, 03 April 2015

Cadas Pangeran : Pangeran Kornel dengan Siapa?

Cadas Pangeran Daendels atau bukan?
Pembuatan Jalan Raya Pos
Pemerintahan Herman Wiliam Daendles di Indonesia dimulai pada tahun 1908. Setelah ia diberikan tugas oleh Napoleon Bonaparte untuk menjadi Gubernur Jenderal di Hindia Timur. Infrastruktur yang dibuatnya terutama di Pulau Jawa adalah untuk tujuan militer. Seperti ia membangun pabrik senjata di Surabaya, pabrik meriam di Semarang dan sekolah militer di Batavia. Bahkan proyek besarnya yaitu pembangunan Jalan Raya Pos juga dibangun untuk memudahkan akses tentara-tentaranya bergerak dengan cepat.
Pembangunan jalan raya post mendapatkan kritik yang tajam dari para lawan-lawan Daendles. Menurut lawan-lawan politiknya, ia telah bertindak dengan cara tangan besi ketika menjalankan tugasnya, yang menyebabkan penduduk Hindia Timur menderita, bahkan menimbulkan beberapa pemberontakan.
Keinginan Daendels membangun Jalan Raya Pos yaitu berdasarkan pengalamannya saat menempuh perjalanan ke Jawa melalui jalan darat. Dan diperlukan empat hari untuk menuju ke Batavia si musim hujan. setelah membenahi infrastruktur administrasi pemerintaha di Batavia dan di Hindia Timur Daendels mengatasi kerusahan yang terjadi di Cirebon. Untuk lebih mengetahui permasalhan yang terjadi di Pulau Jawa, Daendels memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Semarang dan Ujung Timur pulau Jawa. Ketika tiba di Semarang inilah Daendels mengeluarkan perintah untuk memperbaiki dan menghubungkan jalan-jalan desa. Pembangunan dimulai bulan Mei 1808.
 Pembangunan jalur Cadas Pangeran yaitu sebagai penghubung Sumedang dan Bandung yang panjangnya kira 3 Km memiliki berbagai kendala yakni terbentur pada kondisi alam yang sulit karena terdiri atas batuan cadas, sedangkan peralatan yang digunakan sangat sederhana sehingga proses pembangunannya pun lama. Bupati Sumedang kala itu yaitu Pangeran Kusumahdinata IX atau dikenal juga dengan nama Pangeran Kornel marah melihat rakyatnya diperlakukan dengan semena-mena untuk menyelesaikan proyek H.W Daendels membangun Jalan Raya Post yang menghubungkan Anyer-Panarukan dan melewati Kabupaten Sumedang tersebut.
Daendels atau bukan?
Yang menjadi fenomenal adalah patung yang dibuat oleh Caltim Pranadjaya, warga Kec. Tomo, Sumedang pada tahun 1987 yang berdampingan dengan prasasti yang dibuat oleh Belanda (dengan Bahasa Belanda kemudian di bahasa Indonesiakan). Yaitu dimana patung tersebut adalah patung dua orang yang sedang bersalaman. orang yang satu memiliki perwujudan pribumi (menak) dan yang satu memiliki perwujudan seorang asing. seorang Belanda itu mengulurkan tangan kanannya dan seorang pribumi itu mengulurkan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya mengenggam sebuah keris. Menurut cerita rakyat patung tersebut adalah Bupati Sumedang pada saat itu yaitu Pangeran Kusumadinata IX dengan julukan pangeran Kornel dan Daendels yang saat itu memprakarsai pembuatan jalan tersebut.
Kisah jabat tangan yang begitu fenomenal ini berawal ketika pangeran kornel datang dan menemui H.W Daendels ditengah proses pembuatan jalan Cadas Pangeran, dikisahkan ketika sang Pangeran datang Daendels mengulurkan tangan kanannya untuk mengajak Pangeran Kornel berjabat tangan, namun yang terjadi adalah Pangeran Kornel mengulurkan tangan kirinya untuk menjabat tangan Daendels tersebut sementara tangan kanannya bersiap menghunus keris pusaka. Lalu pangeran Kornel mengungkapkan kendala-kendala yang dihadapinya.  Kemudian Daendels mengambil kebijakan untuk menyerahkan perataan gunung batu tersebut oleh pasukan Zeni.
Pertanyaannya, apakah benar menurut cerita rakyat bahwa patung tersebut adalah Pangeran Kornel dan Dandels. Cerita tessebut perlu dikritisi kembali. Menurut tradisi administrasi kolonial pejabat tinggi yang mengunjungi suatu tempat akan dicatat kedatangannya, apa saja yang dilakukannya, apa saja yang dibicakannya sampai kembalinya dan jalur mana yang ditempuhnya. Sedangkan peristiwa pertemuan antara Pangeran Kornel dan Daendels ini tidak tertulis dalam arsip mana pun. Begitu juga leksinografi yang menuliskan tentang sejarah Jawa periode 1800-1811  tidak memuat keterangan-keterangn apapun tentang kejadian itu pada tanggal-tanggal tertentu.
Sehingga berdasarkan fakta diatas menurut saya patung yang berwujud orang asing di cadas pangeran itu belum tentu adalah Daendels jika dikaitkan dengan cerita rakyat bahwa Daendels mengunjungi Cadas Pangeran secara langsung. Prasasti yang dibuat juga menuliskan “... 26 November 1811 hingga 12 Maret 1812” sedangkan masa pemerintahan Daendels berakhir di Indonesia pada 16 Mei 1811. Sehingga tidak ditemukan kerelavansian secara temporal antara prasasti tersebut dan masa pemerintahan Daendels. Dan pada pemerintahan Raffles pun tidak tercatat kunjungan Raffles ke wilayah Priangan pada tahun pertama pemerintahannya. Sehingga kemungkinan besar yang diduga adalah Pangeran Kusama Dinata tersebut bertemu dengan pejabat Inggris yang sedang memantau proyek perluasan jalan. Jika dinyatakan itu adalah Daendels kemungkinan pembuat patung hanya menjadikan itu sebuah simbol bahwa seorang bupati pada saat itu tidak ingin rakyatnya ditindak sewenang-wenang oleh seorang yang berkuasa pada saat itu yang memiliki proyek pembangunan jalan yang menyulitkan warga sekitar yaitu Daendels.
Sumber
Sunardi, Dedi. 2011. Pembuatan Patung Pangeran Kornel Disayembarakan. [Online] tersedia di http://www.kabar-priangan.com/news/detail/1019 diakses pada 14 Oktober 2014.
______, 2014. Herman Wiliam Daendels. [Online] tersedia di . http://id.wikipedia.org/wiki/Herman_Willem_Daendels diakses pada 14 Oktober 2014
Marihandono, Djoko. 2008. Mendekontruksi Pembangunan Jalan Raya Cadas Pangeran 1808 : Komparasi Sejarah dan Tradisi Lisan. [Pdf] Tersedia di . http://staff.ui.ac.id/system/files/users/dmarihan/material/artikelcadaspangeran.pdf diakses 14 Oktober 2014.