Sabtu, 02 Mei 2015

: Fidya Faridah Kultsum
1301280
Mata Kuliah: Sejarah Perekonomian
Tugas : Sistem perekonomian di Kesultanan Mataram
Dosen : Dr. Erlina Wiyanarti, M.pd
KESULTANAN MATARAM
 Kesultanan Mataram adalah kerajaan Islam di Pulau Jawa  yang berdiri sekitar abad XVI dengan raja pertamanya adalah Raden Danang Sutawijaya yang diberi gelar panembahan Senapati. Kerajaan ini merupakan kerajaan yang besar di Jawa yang daerahnya meliputi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Perluasan daerah Mataram dilakukan oleh Senapati yaitudengan penaklukan-penaklukan dan penyerangan-penyerangan sehingga Pajang, Demak dan Pati bersatu di bawah komando Mataram. Begitupun dengan Madiun yang juga dapat ditaklukan.
Kesultanan Mataram adalah kerajaan yang terletak di pedalaman Jawa pada masa kekusaan Senapati pusat pemerintahannya berada di Mentaok wilayah yang kira-kira terletatk di timur Yogyakarta.
PEREKONOMIAN DI MATARAM
Melalui Sultan Agung, Mataram mampu menjadi kerajaaan besar yang tidak hanya dibangun atas pertumpahan darah dan kekerasan, namun melalui kebudayaan rakyat yang adiluhung dan mengenalkan sistem-sistem pertanian. Negeri-negeri pelabuhan dan perdagangan seperti Surabaya dan Tuban dimatikan sehingga kehidupan rakyat bergantung pada sektor pertanian (Adji,2012: 113).
Pada tahun 1619, Agung menaklukan Tuban,salah satu unsur terpenting dari persekutuan Surabaya. Hal ini juga memberinnya kekuasaan atas daerah-daerah pantai yang terpenting yang menghasilkan kayu jati bagi pembangunan kapal (Ricklefs,2008: 85).
Karena wilayahnya yang berada di pedalaman, sumber ekonomi kerajaan Mataram adalah pada bidang pertanian dan hasil hutan. Komoditas terpenting dari Mataram adalah beras dan kayu jati.
Pada masa pemerintahan Sultan Agung dan Amangkurat I kota Jepara menjadi ibu kota dari pesisiran wetan Bagi Jepara beras adalah bahan ekspor yang paling penting. Oleh sebab itu Wedana Bupati Jepara lebih banyak memusatkan perhatiannya terhadap  ekspor bahan ini, terlebih karena ekspor beras merupakan salah satu monopoli raja. Dalam hal impor wedana-bupati  pun mempunyai suara yang menentukan. Ia yang memerintahkan barang apa yang perlu dimasukkan yang bisa memenuhi kebutuhan dan selera di daerahnya (Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Susanto, 1993: 160-161).
Sebelum kerajaan Mataram berdiri, kerajaan-kerajaan besar di Jawa seperti Majapahit dan Kediri  tidak hanya berkuasa dalam perdagangan dan di lautan melainkan juga mendapatkan kekuasaannya  dan kekayaanya terutama karena dasar pertanian mereka, cukai-cukai dan pekerjaan dari penduduk tani. Yang menjadi pokok di negara-negara ini ialah pertanian. Namun perdagangan dan pelayaran juga menjadi sangat penting karenanyalah Jawa mempunyai hubungan dengan peradaban-peradaban di Asia lainnya.  Setelah pertengahan abad ke-16 menculah kerajaan Mataram dibagian selatan Jawa Tengah. Daerah ini sedikit sekali menerima peradaban jawa timur dan pesisir karena terbelakang dan masih terdiri dari dusun-dusun. Kemudian pada akhir abad ke 16 kerajaaan-kerajaan kecil dipersatukan oleh Mataram menjadi sebuah negara yang besar. Mataram berusaha mencapai kekuasaan di seluruh Jawa, tetapi ditentang oleh raja-raja pesisir (Burger,1962 :55-56).
Karena adanya pertentangan antara kerajaan Mataram dan daerah-daerah pesisir terjadilah peperangan-peperangan  sejak awal abad XVII. Pada saat itu kota-kota pantai diserbu dan dihancurkan. Seperti, demak, Pasuruan, Lasem, Tuban Gresik, Madura,dan  Surabaya. Adapun peperangan tersebut mengakibatkan banyak saudagar-saudagar Jawa secara besar-besaran ke Makassar dan Banjarmasin. Perdagangan rempah-rempah orang-orang Jawa pindah ke kota-kota tersebut. Dan oleh karena itu pula akses perdagangan orang Jawa yakni, menjadi tempat yang dilalui untuk pengangkutan rempah-rempah dari Maluku dan  menjadi pengekspor bahan makanan sudah tidak dilakukan lagi. Kemungkinan perubahan dan kepindahan jalur perdagangan itu ada hubungannya dengan keadaan politik Mataram.  Karena di tahun 1641 dan tahun 1646 ada berita yang mengatakan bahwa  raja Mataram melarang rakyatnya melakukan perdagangan laut. Perdagangan luar negeri hanya dapat dijalankan dengan persetujuan raja Mataram antara lain dengan membentuk monopoli beras kerajaan. Orang-orang swasta yang berani mengekspor beras dijatuhi hukuman. Tindakan-tindakan tersebut dimaksudkan, monopoli kerajaan ini ditujukan pada VOC karena Batavia dalam perbekalan makanan tergantung pada Mataram (Burger,1962 :57-58).
Seperti yang dinyatakan Prof. Dr.D. H. Burger dalam bukunya Sedjrah Ekonomis Sosiologis Indonesia tersebut bahwa kerajaan Mataram yaitu sejak  pemerintah Sultan Agung (1613-1645) menjadikan pusat perekonomian Jawa hanya terpusat pada pertanian saja sehingga raja-raja pesisir yang ditaklukan oleh Mataram sangat menentang Mataram.
Sultan Agung pada masa awal pemerintahannya ketika menerima utusan VOC, Rijckloff van Goens, mengatakan bahwa ia bukan seorang pedagang seperti Sultan Banten . Di sini jelas ada perbedaan nilai antara kerajaan agraris yang penghasilannya terutama didasarkan atas hasil pertanian dan hasil hutan, dengan kerajaan pesisir  yang sebagian besar penghasilannya tergantung pada pelayaran dan perdagangan (Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Susanto, 1993: 130-131)
Tujuan monopoli beras oleh kerajaan dan pelarangan pelayaran terhadap perdagangan beras swasta yang dilakukan oleh pemerintah Mataram adalah untuk menghalangi perkembangan perekonomian kaum bangsawan  di daerah pesisir sehingga mereka tunduk pada pemerintahan Mataram. Akibat dari monopoli beras tersebut menjadikan orang-orang Jawa dalam tahun 1657 tidak dapat mengurus sendiri pengiriman beras ke Batavia (Burger, 1962: 59).
Hubungan Sultan Agung dengan VOC sejak semula memang sulit. VOC sangat membutuhkan beras Jawa, sehingga mengharapkan dapat dilakukannya perdagangan dengan daerah-daerah pantai pengekspor beras. Akan tetapi peperangan-peperangan yang dilakukan Sulta Agung menghancurkan tanaman padi, dan pada 1618, ketika terjadi kekurangan dia melarang penjualan beras kepada VOC (Ricklefs,2008: 88).
Namun pada masa kekuasaan Amangkurat I pemerintahannya mengadakan perjanjian dengan VOC. Isi perjanjiannya yang dibuat pada tahun 1646 itu antara lain : pihak VOC  diizinkan membuka pos-pos dagang di wilayah Mataram. Sedangkan pihak Mataram diizinkan berdagang ke pulau-pulau lain yang dikuasai VOC (Adji,2012: 118).
Dimulainya lagi perdagangan Jawa-VOC di daerah pesisir telah mengakibatkan timbulnya suatu krisis internal baru di Jawa. Barang-barang yang dibutuhkan VOC, terutama beras dan kayu adalah hasil daerah pesisir. Sehingga para pengusaha, pedagang, dan pejabat-pejabat di daerah pesisir utaralah yang memperoleh sebagian besar keuntungan dengan berlangsungnya lagi perdagangan ini, sehingga yang diperoleh Raja rupanya kurang dari yang diinginkan. Oleh karena itu, Amangkurat I mulai melakukan pengawasan yang semakin ketat terhadap daerah pesisir. Pada tahun 1652, dia melarang sama sekali ekspor beras dan kayu. Dia memberi tahu pihak Belanda bahwa tindakan tersebut bukanlah langkah yang ditujukan terhadap mereka tetapi terhaap Banten, dan mereka dapat memperoleh beras dengan jalan mengutus seorang duta untuk merundingkan jemlah dan harganya.
Usaha-usaha Amangkurat I untuk menguasai daerah pesisir dan keinginannya memonopoli perdagangan dengan VOC tentu saja saling berkait erat. Dia tampaknya mempunyai empat tujuan pokok : (1) menjamin supaya pajak dari perdagangan daerah pesisir langsung ke istana; (2) menegakan kembali hubungan-hubungan ‘vasal’ VOC yang menurut keyakinannya telah ditetapkan di dalam perjanjian tahun 1946; (3) menerima hadiah-hadiah VOC yang dapat meningkatkan kemegahan dan keagungan istananya, misalnya kuda Persia, dsb; dan (4) menerima uang VOC untuk merngankan kekurangan dana yang kronis di kerajaannya. Tujuan-tujuan ini dapat tercapai jika otonomi daerah pesisir runtuh dan memaksa VOC untuk melakukan semua transaksi secara langsung dengan istana (Ricklefs,2008: 157-158).
Dapat disimpulkan, dari sumber-sumber diatas. Bahwa sistem perekonomian Kesultanan Mataram terpusatkan pada pertanian dan perhutanan dengan kurang memperhatikan perdagangan melalui pelayaran atau hubungan dagang di luar Mataram. Karena adanya monopoli yang dilakukan oleh kerajaan. Adapun, hubungan dagang yang dilakukan dengan VOC semata-mata karena adanya kepentingan politik. Seperti yang telah diuraikan di atas bahwa raja mementingkan dirinya saja sehingga timbul pernyataan Amangkurat I kepada utusan Belanda dari VOC Rijklof van Goens Sunan menerangkan bahwa rakyatnya tidak memiliki hak atas kemakmuran, bahwa dia tidak perlu mengindahkan kemakmuran karena ia berpikir kekuasaannya akan terancam jika rakyatnya makmur (Burger,1962 :56).






Daftar Pustaka
Adji,Krisna Bayu. 2012. Raja-Raja Jawa :Dari Kalingga Hingga Kesultanan Yogyakarta, Yogyakarta: Araska.
D. H. Burger. 1962. Sedjarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, Jakarta: Negara.
Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto. 1993. Sejarah Nasional Indonesia III, Jakarta: Balai Pustaka.
M.C. Ricklefs. 2008. Sejarah Nasional Indonesia 1200-2008, Jakarta: Serambi.



Pengertian Sejarah Kebudayaan

oleh Fidya Faridah K
Departemen Pendidikan Sejarah UPI
2014

Pengertian Sejarah
Menurut Edward Hallet Carr (dalam Ismaun 2005: 15) sejarah adalah suatu proses interaksi berkelanjutan antara sejarawan dengan fakta-fakta yang ada padanya, suatu dialog yang tiada henti antara masa lampau dan masa sekarang.
Menurut Henry Stelee Comagger (dalam Ismaun 2005: 16) sejarah merupakan rekaman keseluruhan tentang masa lampau (kesusastraan, hukum, bangunan, pranata sosial, agama, filsafat, dan semua yang teringat dalam memori manusia).
Sehingga sejarah dapat dikatakan sebagai peristiwa yang benar-benar terjadi mencakup segala aspek kehidupan manusia di masa lampau yang memiliki kesinambungan dengan masa sekarang.
Pengertian Kebudayaan
1.      Menurut Koentjaraningrat
Menurut Koentjaraningrat (2000:181) kebudayaan dengan kata dasar budaya berasal dari bahasa sangsakerta ”buddhayah”, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti “budi” atau “akal”. Jadi Koentjaraningrat, mendefinisikan budaya sebagai “daya budi” yang berupa cipta, karsa dan rasa, sedangkan kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa dan rasa itu.
Sehingga kebudayaan juga dapat dikatakan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia dengan  belajar (Koentjaraningrat, 1990 : 180).


2.      Menurut Prof. Harsoyo
Inti kebudayaan adalah:
1.      Kebudayaan yang terdapat di dalam masyarakat berbeda antara satu dengan yang lain.
2.      Kebudayaan itu dapat diteruskan dan diajarkan
3.      Kebudayaan itu dijabarkan dari komponen-komponen biologis, psikologis, sosiologis, dan eksistensi manusia.
4.      Kenudayaan itu berstruktur mempunyai cara atau aturan tertentu
5.      Kebudayaan terbagi dari berapa aspek-aspek baik sosial maupun psikologis
6.      Kebudayaan itu selalu bersifar dinamis dan berubah
7.      Nilai-nilai dalam kehidupan itu bersifat relatif antara masyarakat yang satu berbeda dengan masyarakat lainnya.

3.      Menurut Tylor
Menyatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks yang didalamnya meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, kesusilaan, adat istiadat, serta kesanggupan dan kebiasaan lainnya yang mempelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat.

4.       Menurut Ki hajar Dewantara
Ki Hajar Dewantara, menyatakan bahwa kebudayaan adalah buah dari manusia, yang merupakan hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, alam dan jaman (kodrat dan masyarakat) yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran di alam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya besipat tertib dan damai.

5.       Soedjatmoko, mengemukakan kebudayaan adalah penjelmaan manusia dalam penghadapannya dengan lingkungan alam dan sosialnya dengan ruang dimana ia hidup dan dalam penghadapannya dengan waktu, peluang dan pilihan, kesinambungan dan perubahan, serta sejarah (Soedjatmoko 1985).

Sehingga dapat dikatakan kebudayaan merupakan hasil cipta, karsa, dan rasa manusia dari segala aspek kehidupan manusia, dimana gagasan untuk menciptakan hasil tersebut sebagai penyesuaian dirinya terhadap lingkungan alam dan sosialnya.

Pengertian Sejarah Kebudayaan

Menurut Prof. Soekmono dalam bukunya Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia I (1973, 14), menyebutkan bahwa Sejarah Kebudayaan merupakan sejarah yang mempelajari mengenai kebudayaan-kebudayaan di waktu yang lampau dalam pertumbuhan dan perkembangannya dari masa ke masa baik berupa benda maupun peninggalan berupa harta kerohanian.

Dalam bukunya Sejarah Sebagai Ilmu  Prof. Ismaun memaparkan bahwa dalam kajiannya sejarah kebudayaan mencakup segala aspek perikehidupan dalam masyarakat manusia dari masa ke masa. Sehingga sejarah kebudayaan diartikan sejarah umum yang mengintegrasikan semua aspek itu yaitu politik, ekonomi, sosial, filsafat, agama, kesenian, dan lain-lain.
Sejarah kebudayaan dalam pengertian sejarah umum menganalisis gejala-gejala sejarah untuk memahami hubungan antara berbagai aspek:
1.      Melacak waktu suatu masa dalam sintesis kondisi-kondisi ekonomi, sosial, politik, dan lain-lain;
2.      Berusaha memahami peralihan dari suatu periode ke periode berikutnya;

Jadi jika dikaitkan pengertian kebudayaan yang telah diuraikan sebelumnya dengan hakikat sejarah sebagai suatu kesinambungan dan perubahan yang dilakukan manusia. Maka sejarah kebudayaan adalah perubahan hasil dari cipta, karsa dan rasa manusia dari masa ke masa. Perubahan penciptaan suatu kebudayaan yang dilakukan manusia adalah untuk menjawab kebutuhan dan tantangan zaman.
Dimana kajian sejarah kebudayaan yaitu mengenai berbagai aspek kehidupan manusia karena semua aspek-aspek tersebut merupakan hasil karya, rasa, cipta manusia. Serta memahami bagaimana dan penyebab terjadinya peralihan atau pembentukan kebudayaan-kebudayaan yang berbeda-beda dari setiap zaman.





























Daftar Pustaka


Ahmad, Zhein. (2011) Teori Kebudayaan. [Online]. Tersedia di http://ayhie13.wordpress.com/culture/teori-kebudayaan/. [Diakses 7 September 2014]
Ismaun. (2005) Sejarah Sebagai Ilmu. Bandung: Historia Utama Press.
Ridwan, Muhammad. (2012) Pengertian Kebudayaan Menurut para Ahli Barat dan Indonesia. [Online]. Tersedia di http://senseleaf.blogspot.com/2012/03/pengertian-kebudayaan-menurut-para-ahli.html . [ Diakses 7 September 2014]
Satriya, I Gede Ida Selamet. (2012) PENGERTIAN KEBUDAYAAN. [Online]. Tersedia di http://kojingtechnolog.wordpress.com/2011/09/04/pengertian-kebudayaan/ [Diakses 7 September 2014].
Soekmono, R. (1973) Pengantar Sejarah Kebudayaan Jilid I. Yogyakarta: Kanisius



Soedirman Teladan Pemuda Indonesia

Jenderal Soedirman Panglima Besar di Usia Muda Teladan bagi Pemuda Indonesia
Oleh : Fidya Faridah Kutsum
Pendahuluan
Tidak satu pun orang di Indonesia luput dari seorang Jenderal yang bernama Soedirman. Sebagai pahlawan nasional namanya digunakan sebagai nama jalan di berbagai kota. Patung setinggi 6 meter di tengah hiruk pikuk keramaian ibu kota juga sudah tidak asing lagi dari pandangan masyarakat Indonesia. Cerita tentangnya tertulis di buku teks Sekolah Dasar himgga Sekolah Menengah. Sedikit yang tergambarkan tentang Soedirman di buku tersebut. Soedirman sebagai panglima tentara yang pertama, pemimpin yang bertanggung jawab, dan bergirlya dalam kondisi sedang sakit.
Soedirman bukan satu-satunya pemuda yang dapat menjadi teladan di Indonesia sebagai pahlawan zaman revolusioner. Ia adalah satu diantara banyak pemuda yang memiliki peran penting dalam sejarah berdirinya Indonesia. Sebagai pemuda Soedirman aktif dalam organisasi, kegiaatan sosial, dan karirnya berlanjut menjadi seorang guru, kepala sekolah, prajurit PETA dan berakhir sebagai panglima besar. Perjalanan karirnya yang tidak cukup panjang namun memiliki arti penting dan sarat akan nilai-nilai positif yang dapat menginspirasi pemuda Indonesia.
Sikap kepemimpinan yang bersahaja, disiplin, percaya diri, kerja keras, pantang menyerah, lebih mementingkan orang lain dibandingkan dirinya sendiri. Hal-hal tersebut menjadi sebuah pondasi bagi pribadi yang baik. Sehingga patutlah Jenderal Soedirman sebagi tokoh teladan bagi pemuda Indonesia. Karena untuk membangun suatu bangsa yang baik diperlukan pribadi-pribadi yang baik dalam setiap lapisan masyarakatnya.

Sekilas Biografi Jenderal Soedirman
Jenderal Soedirman lahir di Bodas Karangjati, Purbalingga, Jawa Tengah. Pada tanggal 24 Januari 1916. Sejak kecil Soedirman berada dalam didikan Raden Tjokrosoenarjo Asisten Wedana di Rembang. Beliau mendapat pendidikan formal di HIS (Hollandsch-Inlandsche School) sejak tahun 1923. Kemudian pada tahun 1932 ia masuk ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO, setara dengan sekolah menengah pertama) Wiworotomo, Cilacap, dan lulus tahun 1934.
Saat bersekolah di MULO Soedirman mulai aktif dalam organisasi Muhammadiyah, Hizbul Wathan. Lulus MULO pada tahun 1934, Soedirman sempat melanjutkan pendidikan di Hollanache Indische Kweekschool (HIK) yaitu Sekolah Guru Bantu di Solo Jawa Tengah walaupun tidak tamat dan kembali ke Cilacap. Karirnya berwal menjadi seorang guru di HIS Muhammadiyah Cilacap. Kemudian beliau juga sempat menjadi kepala sekolah di sekolah tersebut. kegiatan berorganisasinya jugalah yang mengenaljkan Soedirman pada seorang pengusaha sukses Sastroatmodjo yang kemudian memperistri Alfiah anak dari Sastriatmdjo.
Pada masa pendudukan Jepang bergabung dengan pasukan PETA. Ia diangkat sebagai daidancho yang ditempatkan di Kroya, Jawa Tengah. Kemudian Pada umur 29 tahun saat negara Indonesia telah terbentuk beliau dipilih sebagai panglima TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Tiga tahun kemudian pangkatnya naik menjadi Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia.
Pencapaian-pencapaiannya dalam memenangkan berbagai perang antara Republik Indonesia dengan Sekutu yang menjadikan beliau sangat berperan dalam usaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Karirnya tidak panjang. Beliau wafat pada tanggal 29 Januari 1950 dalam usia 34 tahun.
Pembangunan pribadi yang baik
Sejak kecil Soedirman diberi pendidikan agama yang sangat baik oleh ayah angkatnya Tjokrosoenarjo. Sebagaimana layaknya masyarakat Indonesia yang dikenal religius, Soedirman sebagai anak desa di Jawa, setiap sore pergi ke surau atau langgar untuk belajar membaca Alquran dan pengetahuan agama Islam. Ia kemudian tumbuh sebagai remaja dan pemuda aktivis dan guru. pendidikan agama yanga sangat kuat tersebutlah yang memberikan pondasi bagi Soedirman.
Sejak di MULO Soedirman aktif dalam kegiatan organisasi. Hizbul Wathan adalah orhanisasi Muhammadiyah yang diikutinya. Di organisasi ini ia menjadi seorang pandu yang disiplin dan bertanggung jawab. Di Hizbul Wathan, Soedirman meraih pencapaian tertinggi sebagai seorang pandu daerah, dari pemimpin Hizbul Wathan cabang Cilacap hingga menjafi Menteri Daerah Banyumas. menurut Saleh Djamhari, pensiunan Pusat Sejarah TNI
"Watak disiplin dan tanggung jawab yang  Soedirman miliki hingga menjadi Panglima Besar awalnya dipupuk di Hizbuln Wathan"
Sehingga dapat terlihat disini peran organisasi dangat penting dalam memupuk jiwa kepemimpinan seseorang. karena dituntut untuk memiliki sikap disiplin dan rasabtanggung jawab. seperti yang dikatakan Zaldy Munir dalam artikelnya Peran dan Fungsi Organisasi Mahasiswa bahwa dengan bmerorganisasi mahasiswa akan berinteraksi dan beraktualisasi, sehingga menjadji pribadi yang kreatif dan dinamis serta dapat lebih bijaksana dalam persoalan yang mereka hadapi.
Pendidikan guru Soedirman di HIK tidak tamat. Namun pertemuannya dengan R. Mohammad Kholil memberikan kesempatan baginya menjadi seorang guru di sekolah dasar HIS Muhammadiyah Cilacap. Dengan kemauan dan kemapuan yang dimiliki Soedirman mampu tampil sebagai guru yang andal dalam menjalankan profesi dan unjuk kerjanya. pada pemilihan kepala sekolah Soedirman ditunjuk sebagai kepala sekolah di HIS Cilacap. Setelah diangkat sebagai kepala sekolah Soedirman sangat komitmen dan berpandangan tegas seperti Ahmad Dahlan dan Ki Hadjar Dewantara, bahwa melalui pendidikan bumiputera yang maju akan dapat mencerdaskan kehidupan masyrakat. 
Kemantapan dan keluasaan wawasan keagamaan ikut berperan dalam kepribadian Soedirman di dalam dinamika kehidupan dan perjuangannya. Setelah dewasa Soedirman dikenal sebagai da'i, pengalamannya di Muhammadiyah yang memberi kepiawaiannyq dakam berdakwah.
Memasuki masa penduduk jepang sebelum bergabung dalam pasukan PETA Soesirman sempat mendirikan sebuah koperasi. Koperasi ini ditujukan untuk membantu mensejahterakan rakyat yang tertindas oleh Jepang. Kedekatan Soedirman kepada masyarakat inilah yang dimanfaatkan Jepang. Ia di tunjuk sebagai penarik upeti karena Badan makanan yang dimilikinya diambil alih oleh Jepang. Alih-alih membantu Jepang ia tetap lebih mengutamakan kebutuhan rakyat terlenih dahulu.
Soedirman sebagai teladan bagi pemuda
Soedirman dikenal sebagai tokoh yang arif dan rendah hati. Beliau sangat mengharhai sesama, demokratis dan bertanggung jawab. Perjalanan hidupnyalah yang memupuk karakter baik dalam dari Soedirman.
Sejak kanak kanak, masa sekolah sampai aktif di organisasi Mummadiyah sebagai pemimpin HW  dan pemuda Muhammadiyah menjadi guru dan kepala sekolah HIS Mummadiyah di Cilacap, sebagai kepala koperasi dan akhirnya sebagai Daidancho PETA telah meletakkan dasar dasar kepribadian, karakter dan membangun jiwa kepemimpinan dalam diri Soedirman.  Dasar-dasar kepribadian itulah yang Soedirman terapkan sebagai seorang Jenderal. Beliau seorang jenderal yang bijaksana, menghargai sesama, bertanggung jawab, tetap tunduk kepada pemimpin negara walaupun beberapa keputusan dan kebijakannya mengecewakan. Beliau keras hati memilih untuk bergerilya dengan sebelah paru-parunya demi kepentingan rakyat Indonesia.
Dasar-dasar kepribadian tersebutlah yang patut diteladani oleh pemuda masa kini agar daoat memimpin dan membangun indonesia lebih baik lagi. karena peran pemuda sangatlah penting dalam pembangunan sebuah bangsa. Jika kita tengok sejarah peran pemudalah yang banyak memberikan perubahan. Menurut Panji Pragiwaksono dalam bukunya Berani Mengubah " hanya ada dua jenis pemuda di dunia mereka yang menuntut perubahan dan mereka yang melakukan perubahan.." tentunya perubahan yang dimaksud adalah perubahan ke arah yang lebih baik. Teladan dari sikap jenderal soedirman dapat diterapkan oleh pemuda Indonesia masa kini untuk melakukan perubahan.

Daftar Pustaka
Pambudi, Punto Eko, dkk. 2012. Soedirman : Seorang Panglim, Seorang Martir. Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia.
AM, Sardiman. 2009. Kepemimpinan Sudirman Dalam Konteks Sosial Kemasyarakatan.  [PDF]. Tersedia di    http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/PENELITIAN%20KEPIMPINAN%20SUDIRMAN%2009.pdf  diakses pada tanggal 22 November 2014