Rabu, 12 November 2014

Materi Kelas XII Sejarah Indonesia (Wajib)

Kompetensi Dasar: 3.2 Menganalisis upaya bangsa Indonesia dalam upaya mempertahankan kemerdekaan dari         ancaman Jepang, Sekutu, dan Belanda.



SEMANGAT NASIONAL IS ME :
Tidak Mau Dijajah Kembali (Mempertahankan Kemerdekaan melalui Diplomasi dan Nondiplomasi)



1. Latar Belakang Kedatangan   Sekutu dan NICA
Euforia kemerdekaan  masih menggebu diseluruh Indonesia. kemerdekaan atas penjajahan menjadi suatu pintu gerbang untuk bangkit dari penindasan. Namun kemenangan Sekutu atas Jepang seolah memberikan kesempatan bagi Belanda masuk kembali ke Indonesia dan menancapkan kembali benderanya di Indonesia yang sudah berbentuk republik ini.
23 Agustus 1945 tibalah Inggris bersama tentara Belanda di Sabang, Aceh. Tentara Inggris tiba di Jakarta pada 15 September 1945 di dampingi Dr. Charles van der Plas. NICA (Netherland Indies Civil Administration- pemerintahan sipil Hindia Belanda) yang dipimpin oleh Dr. Hubertus J. Van Mook juga ikut dalam rombongan sekutu. Tujuannya adalah untuk mewujudkan pidato Ratu Wilhelmina pada tahun 1942. Bahwa di kemudian hari akan dibentuk persemakmuran yang anggotanya termasuk Hindia Belanda. di bawah pimpinan Ratu Belanda.
Sebagai negara yang sudah berdaulat dan  merdeka Indonesia tidak membukakan pintu bagi Belanda. Sehingga terjadilah perlawanan-perlawanan di setiap daerah. Pemerintah lebih memilih untuk bekerjasama dalam menyelesaikan hal ini, dengan perjanjian-perjanjian. Namun saat perjanjian dilanggar oleh pihak lawan, tentu saja Indonesia tidak tinggal diam. Berbagai perlawanan dengan mengangkat senjata pun dilakukan. 

A Dutch military column during Operation Product



2. Perjuangan Nondiplomasi
2.1 Peristiwa10 November di Surabaya
Apa yang anda ingat jika mendengar 10 November? Peringatan hari Pahlawan. Pertempuran ini terjadi karena ultimatum yang dicetuskan oleh Mayor Jenderal Robert Mansergh yang menyebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas dengan batas ultimatum adalah jam 6.00 pagi tanggal 10 November 1945 tidak dilaksanakan oleh pihak Indonesia. alasannya adalah Republik Indonesia waktu itu sudah berdiri, dan Tentara Keamanan Rakyat TKR juga telah dibentuk sebagai pasukan negara. Selain itu, banyak organisasi perjuangan bersenjata yang telah dibentuk masyarakat, termasuk di kalangan pemuda, mahasiswa dan pelajar yang menentang masuknya kembali pemerintahan Belanda yang memboncengi kehadiran tentara Inggris di Indonesia.
Serangan-serangan berskala besar, yang diawali dengan pengeboman udara ke gedung-gedung pemerintahan Surabaya, dan kemudian mengerahkan sekitar 30.000 infanteri, sejumlah pesawat terbang, tank, dan kapal perang, mulai dilancarkan oleh tentara Inggris pada 10 November 1945. Dentuman meriam dari laut dan darat terdengar di Kota Surabaya. Yang membuat pasukan dan milisi Indonesia tidak tinggal diam. Begitu juga dengan penduduk sipil lainnya.keterlibatan penduduk sipil ini mengakibatkan ribuan penduduk sipil jatuh menjadi korban dalam serangan ini.
Tokoh Masyarakat seperti Bung Tomo yang berpengaruh besar di masyarakat terus menggerakan semanagt perlawanan pemuda-pemuda Surabaya sehingga perlawanan terus berlanjut di tengah serangan skala besar Inggris. Sehingga pertempuran yang diperkirakan Inggris akan selesai selama 3 hari. Nyatanya, pertempuran ini mencapai tiga minggu sebelum seluruh kota Surabaya akhirnya jatuh di tangan pihak Inggris.
Setidaknya 6,000 - 16,000 pejuang dari pihak Indonesia tewas dan 200,000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. Korban dari pasukan Inggris dan India kira-kira sejumlah 600 - 2000 tentara.  Pertempuran berdarah di Surabaya yang memakan ribuan korban jiwa tersebut telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan.
Bung Tomo merupakan  salah satu pemimpin revolusioner Indonesia yang paling dihormati.

2.2 Palagan Ambarawa
20 Oktober 1945, datanglah tentara Sekutu di bawah pimpinan Brigadir Bethell yang mendarat di Semarang bemaksud untuk mengurus tawanan perang dan tentara Jepang di Jawa Tengah. Sekutu ini diboncengi oleh NICA. Pada walnya mereka disambut baik oleh Gubernur Jawa Tengah Mr. Wongsonegoro sehingga Sekutu berjanji tidak akan mengganggu kedaulatan Republik Indonesia.
Lain perkataan lain yang dilakukan, mereka mempersenjatai para tawanan Belanda di Ambarawa dan Magelang yang telah mereka bebaskan. Hal ini yang memicu terjadinya pertempuran. Bahkan di Magelang tentara Sekutu mencoba melucuti Tentara Keamanan Rakyat dan membuat kekacauan. TKR Resimen pimpinan Letkol. M.Sarbini membalas tindakan tersebut dengan mengepung tentara Sekutu dari segala penjuru. Kemudian Pasukan Sekutu meninggalkan Magelang secara diam-diam menuju benteng Ambarawa . Terpiculah Resimen Kedu Tengah di bawah pimpinan Letkol. M. Sarbini untuk melakukan pengajaran terhadap mereka. Pasukan Indonesia di bawah pimpinan Letkol Isdiman berusaha membebaskan dua desa di sekitar Ambarawa yang dikuasai Sekutu. Namun Letkol Isdiman gugur terlebih dahulu. Sehingga turunlah ke lapangan Komandan Divisi V Banyumas, Kol. Soedirman. Kol. Soedirman memberikan koordinasi diantara komando-komando sektor dan pengepungan terhadap musuh. Siasatnya adalah serangan pendadakan serentak di semua sektor. Bala bantuan terus mengalir Yogyakarta, Solo, Salatiga, Purwokerto, Magelang, Semarang dan lain-lain.
Pada tanggal 11 Desember 1945, Kol. Soedirman mengadakan rapat dengan para Komandan Sektor TKR dan Laskar. Pada tanggal 12 Desember 1945 jam 04.30 pagi, serangan mulai dilancarkan. Pembukaan serangan dimulai dari tembakan mitraliur terlebih dahulu, kemudian disusul oleh penembak-penembak karaben. Pertempuran berkobar di Ambarawa. Satu setengah jam kemudian, jalan raya Semarang-Ambarawa dikuasai oleh kesatuan-kesatuan TKR. Pertempuran Ambarawa berlangsung sengit. Kol. Soedirman langsung memimpin pasukannya yang menggunakan taktik gelar supit udang, atau pengepungan rangkap dari kedua sisi sehingga musuh benar-benar terkurung. Suplai dan komunikasi dengan pasukan induknya diputus sama sekali. Setelah bertempur selama 4 hari, pada tanggal 15 Desember 1945 pertempuran berakhir dan Indonesia berhasil merebut Ambarawa dan Sekutu dibuat mundur ke Semarang.

Peta strategi Supit Urang
Tahukah kamu?
Arti nama “Supit Urang”
Supit Urang adalah nama strategi perang yang digunakan oleh Kolonel Soedirman untuk mengusir Sekutu dari Ambrawa. Nama Supit Urang berasal dari bahasa pewangan yang artinya kepungan. Jadi, strategi Supit Urang itu digunakan untuk mengepung Sekutu. Strategi ini berhasil menyingkirkan Sekutu dari Ambarawa
 
2.3. Peristiwa Bandung Lautan Api  
Peristiwa Bandung Lautan Api merupakan bagian dari sejumlah peristiwa heroik yang terjadi di hampir seluruh daerah di tanah air  untuk menolak penjajahan kembali tanah air Indonesia oleh Belanda. Pada 29 November 1945 para milisi dan pejuang kemerdekaan Republik Indonesia harus menyerahkan senjata yang rampasan mereka dan  apabila ultimatum penyerahan tersebut tidak laksanakan tentara Sekutu akan mengambil tindakan militer untuk menegakkan tujuan tersebut. Peringatan ini tidak dihiraukan oleh pihak tentara Republik. Oleh karena persenjataan yang tidak memadai, pasukan TKR dan para pejuang lainnya tidak dapat mempertahankan Bandung Utara. Akhirnya Bandung Utara dikuasai oleh tentara Sekutu.
Pada tanggal 26 November 1945 Inggris mengultimatum warga Bandung untuk mengosongkan wilayah Bandung Utara. Ultimatum tersebut mendapat banyak perlawanan di seluruh penjuru kota Bandung. Tanggal 17 maret 1946 sekutu kembali mengeluarkan ultimatum kedua yaitu militer Indonesia diperintahkan untuk mundur 11 KM dari wilayah Bandung Selatan dan tidak boleh melakukan pengrusakan. Rakyat, pemerintah sipil dan polisi tidak perlu mundur. A.H. Nasution (pemimpin divisi III tentara keamanan rakyat atau TKR komandemen I Jawa Barat)langsung melaporkan tentang ultimatum tersebut kepada Sutan Syahrir, beliau berkata para pejuang di Bandung tidak akan menerima ultimatum tersebut karena pada akhirnmya rakyat akan mengikuti tentara. Syahrir memerintahkan A.H. Nasution untuk tidak melawan Belanda dan menyerahkan Bandung. Namun A. H. Nasution tidak sependapat dengan Syahrir dan memilih untuk membumihanguskan Bandung.
Setelah keputusan tersebut diambil A.H. Nasution langsung memerintah semua warga Bandung untuk meninggalkan Bandung dan pasukan TRI. Bandung sengaja dibakar oleh TRI dan rakyat setempat dengan maksud agar Sekutu tidak dapat menggunakan Bandung sebagai markas strategis militer. Asap mengepul di langit Bandung, semua listrik mati. Tentara Inggris mulai menyerang sehingga pertempuran sengit terjadi. Pertempuran yang paling besar terjadi di Desa Dayeuhkolot, sebelah selatan Bandung, di mana terdapat gudang amunisi besar milik Tentara Sekutu. Dalam pertempuran ini Muhamad Toha dan Ramdan, dua anggota milisi BRI (Barisan Rakjat Indonesia) terjun dalam misi untuk menghancurkan gudang amunisi tersebut. Muhammad Toha berhasil meledakkan gudang tersebut dengan dinamit. Gudang besar itu meledak dan terbakar bersama kedua milisi tersebut di dalamnya. Demi keselamatan Staf pemerintahan kota Bandung , maka pada pukul 21.00 itu juga ikut dalam rombongan yang mengevakuasi dari Bandung. Sejak saat itu, kurang lebih pukul 24.00 Bandung Selatan telah kosong dari penduduk dan TRI. Pembumihangusan Bandung tersebut dianggap merupakan strategi yang tepat dalam Perang Kemerdekaan Indonesia karena kekuatan TRI dan milisi rakyat tidak sebanding dengan kekuatan pihak Sekutu dan NICA yang berjumlah besar. Setelah peristiwa tersebut, TRI bersama milisi rakyat melakukan perlawanan secara gerilya dari luar Bandung.
2.4. Serangan Umum 1 Maret
Serangan Umum 1 Maret 1949 ialah serangan yang dilaksanakan pada tanggal 1 Maret 1949 terhadap kota Yogyakarta secara besar-besaran. Serangan ini direncanakan & dipersiapkan oleh jajaran tertinggi militer di wilayah Divisi III/GM III dengan mengikutsertakan beberapa pucuk pimpinan pemerintah sipil setempat berdasarkan instruksi dari Panglima Besar Sudirman.Tujuannya adalah untuk membuktikan kepada dunia internasional bahwa TNI masih ada & cukup kuat, sehingga dengan demikian dapat memperkuat posisi Indonesia dalam perundingan yang sedang berlangsung di Dewan Keamanan PBB dengan maksud utama untuk mematahkan moral pasukan Belanda serta membuktikan pada dunia internasional bahwa Tentara Nasional Indonesia [TNI] masih mempunyai kekuatan untuk mengadakan perlawanan. Soeharto pada waktu itu sebagai komandan brigade X/Wehrkreis III turut serta sebagai pelaksana lapangan di wilayah Yogyakarta. Kurang lebih satu bulan sesudah Agresi Militer Belanda II yang dilancarkan pada bulan Desember 1948, TNI mulai menyusun strategi guna melakukan pukulan balik terhadap tentara Belanda yang dimulai dengan memutuskan telepon, merusak jalan kereta api, menyerang konvoi Belanda, serta tindakan sabotase lainnya.
Tanggal 1 Maret 1949, pagi hari, serangan secara besar-besaran yang serentak dilakukan di seluruh wilayah Divisi III/GM III dimulai, dengan fokus serangan ialah Ibukota Republik, Yogyakarta, serta koar-besaran oleh pasukan Brigade X yang diperkuat dengan satu Batalyon dari Brigade IX, sedangkan serangan terhadap pertahanan Belanda di Magelang & penghadangan di jalur Magelta-kota di sekitar Yogyakarta, terutama Magelang, sesuai Instruksi Rahasia yang dikeluarkan oleh Panglima Divisi III/GM III Kolonel Bambang Sugeng kepada Komandan Wehrkreis I, Letkol Bahrun & Komandan Wehrkreis II Letkol Sarbini. Pada saat yang bersamaan, serangan juga dilakukan di wilayah Divisi II/GM II, dengan fokus penyerangan ialah kota Solo, guna mengikat tentara Belanda dalam pertempuran agar tak dapat mengirimkan bantuan ke Yogyakarta. Walaupun, tentara Belanda dari Magelang dapat menerobos hadangan gerilyawan Republik, & sampai di Yogyakarta sekitar pukul 11. 00.  Pos komando ditempatkan di desa Muto. Pagi hari sekitar pukul 06. 00, sewaktu sirene dibunyikan serangan segera dilancarkan ke segala penjuru kota. Dalam penyerangan ini Letkol Soeharto langsung memimpin pasukan dari sektor barat sampai ke batas Malioboro.

Sektor Timur dipimpin Ventje Sumual, sektor selatan & timur dipimpim Mayor Sardjono, sektor utara oleh Mayor Kusno. Sedangkan untuk sektor kota sendiri ditunjuk Letnan Amir Murtono & Letnan Masduki sebagai pimpinan. TNI berhasil menduduki kota Yogyakarta selama 6 jam. Tepat pukul 12. 00 siang, sebagaimana yang telah ditentukan semula,seluruh pasukkan TNI mundur.


3. Perjuangan Diplomasi
3.1 Linggarjati
Untuk menghentikan tembak menembak antara RI-Belanda maka mulai 10 November 1946 diadakan perundingan Linggarjati (ditandatangani 25 Maret 1947) yang berisi:
1. Belanda mengakui secara de facto wilayah RI atas Jawa, Sumatera dan Madura
2. RI-Belanda akan membentuk NIS dengan nama RIS
3. RI-Belanda akan membentuk Uni Indonesia-Belanda dan Ratu Belanda sebagai ketuanya.
4. belanda harus meninggalkan wilayah RI selambat-lambatnya 1 Januari 1949
Belanda melanggar perjanjian tersebut dan melakukan Agresi Militer I pada tanggal 21 Juni 1947 sehingga mendapat reaksi PBB. Penghentian tembak menembak dilakukan 1 Agustus 1947 dan Dewan Keamanan PBB membentuk KTN (Komisi Tiga Negara) yang anggotanya adalah:
1. Australia (Wakil Indonesia) : Richard Kirby
2. Belgia (Wakil Belanda) : Paul van Zeeland
3. USA (netral) : Dr. Frank Graham

3.2 Renville
Anggota KTN tersebut membantu pihak RI-Belanda untuk mengadakan perundingan di atas geladak Kapal Amerika USS RENVILLE ( 8 Desember 1947 ) dan ditandatangani tanggal 17 Januari 1948 yang isinya:
1. belanda mengakui wilayah RI yang sedang di duduki (Yogyakarta)
2. TNI harus hijrah ke daerah RI
3. RI merupakan bagian dari RIS
4. Dalam jangka eaktu lebih kurang enam bulan sampau satu tahun akan diadakan pemilu untuk membentuk dewan konstitusi RIS
Namun tidak semua masyarakat Indonesia menyetujui isi perjanjian tersebut, seperti SM Kartosuwiryo yang mendirikan DI / TII, Pemberontakan PKI Madiun ( Muso ) 1948. Belanda bertekad untuk menghapus RI dan menghancurkan kekuatan TNI. Untuk iti Belanda melakukan Agresi militer II tanggal 19 desember 1948. Belanda menyerbu Yogyakarta dan menawan presiden dan wapres serta pemimpin politik lainnya. Sebelum itu presiden sempat mengirimkan kawat pada Syafrudin Prawiranegara untuk membentuk PDRI di Sumatera. Apabila tidak sanggup maka diserahkan pada Sudarsono, AA Maramis dan LN Palar untuk membentuk pemerintah pelarian RI di India.

3.3 Roem Royen
Pada tanggal 28 Januari 1948 DK PBB memutuskan penghentian operasi militer Belanda dan para pemimpin RI yang ditawan harus dikembalikan. Pada tanggal 14 April 1949 diadakan perjanjian ROOM ROYEN di bawah pengawasan UNCI ( perubahan dari KTN ) dan pada tanggal 7 Mei 1949 terjadi kesepakatan:
Pernyataan Delegasi Indonesia
1. Menghentikan perang gerilya
2. bekerjasama mengembalikan keamanan
Pernyataan Delegasi Belanda
1. Menyetujui pengembalian pemerintahan RI ke Yogyakarta
2. Menghentikan operasi militer serta membebaskan para pemimpin RI dan selekasnya    mengadakan KMB

3.4 Konferensi Meja Bundar
KMB dilaksanakan di DENHAAG ( Negeri Belanda ) pada tanggal 22 Agustus 1949 - 29 Oktober 1949 dengan hasil keputusan:
1. Belanda menyerahkan kedaulatan RI kepaa RIS
2. Antara RIS dan Belanda akan diadakan hubungan Uni Indonesia-Belanda yang dikepalai oleh ratu Belanda
3.  Tentara Belanda akan ditarik mundur dan tentara KNIL dibubarkan
4.Masalah Irian Barat akan dibicarakan setahun setelah penyerahan kedaulatan.
Pada tanggal 27 Desember 1949 dilakukan penyerahan kedaulatan oleh Belanda kepada RIS yang wilayahnya bekas kekuasaan Belanda tanpa Irian Barat.
Penyerahan kedaulatan dilakukan di tiga tempat antara lain:
1. Amsterdam, dilakukan oleh Ratu Belanda kepada PM RIS
2. Yogyakarta, dilakukan oleh Pemerintah RI pada pemerintah RIS
3. Jakarta, dilakukan oleh Wakil Tinggi Mahkota Belanda kepada RIS
Pembentukan Negara RIS ( 16 negara bagian ) berdasarkan isi KMB ternyata tidak disetujui oleh masyarakat Indonesia dan dengan tegas mereka menuntut dibubarkannya RIS dan kembali pada Negara Kesatuan RI mengingat Bahasa, bendera maupun hari Nasional sama dengan RI. Berdasarkan hasrat dan desakan Rakyat Indonesia maka pada tanggal 17 Agustus 1950 RIS dibubarkan dan dibentuk NKRI dan saat itu juga Konstitusi RIS diganti dengan UUD Sementara RI dan bangsa Indonesia segera memasuki era baru yaitu Demokrasi Liberal.
 

0 komentar:

Posting Komentar