SEMANGAT NASIONAL IS ME :
1. Latar Belakang Kedatangan
Sekutu dan NICA
Euforia
kemerdekaan masih menggebu diseluruh
Indonesia. kemerdekaan atas penjajahan menjadi suatu pintu gerbang untuk
bangkit dari penindasan. Namun kemenangan Sekutu atas Jepang seolah memberikan
kesempatan bagi Belanda masuk kembali ke Indonesia dan menancapkan kembali
benderanya di Indonesia yang sudah berbentuk republik ini.
23
Agustus 1945 tibalah Inggris bersama tentara Belanda di Sabang, Aceh. Tentara
Inggris tiba di Jakarta pada 15 September 1945 di dampingi Dr. Charles van der
Plas. NICA (Netherland Indies Civil Administration- pemerintahan sipil Hindia
Belanda) yang dipimpin oleh Dr. Hubertus J. Van Mook juga ikut dalam rombongan
sekutu. Tujuannya adalah untuk mewujudkan pidato Ratu Wilhelmina pada tahun
1942. Bahwa di kemudian hari akan dibentuk persemakmuran yang anggotanya termasuk
Hindia Belanda. di bawah pimpinan Ratu Belanda.
Sebagai
negara yang sudah berdaulat dan merdeka
Indonesia tidak membukakan pintu bagi Belanda. Sehingga terjadilah
perlawanan-perlawanan di setiap daerah. Pemerintah lebih memilih untuk
bekerjasama dalam menyelesaikan hal ini, dengan perjanjian-perjanjian. Namun
saat perjanjian dilanggar oleh pihak lawan, tentu saja Indonesia tidak tinggal
diam. Berbagai perlawanan dengan mengangkat senjata pun dilakukan.
|
A
Dutch military column during Operation Product
|
2. Perjuangan Nondiplomasi
2.1 Peristiwa10 November di Surabaya
Apa
yang anda ingat jika mendengar 10 November? Peringatan hari Pahlawan. Pertempuran
ini terjadi karena ultimatum yang dicetuskan oleh Mayor Jenderal Robert
Mansergh yang menyebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang
bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan
dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas dengan batas ultimatum
adalah jam 6.00 pagi tanggal 10 November 1945 tidak dilaksanakan oleh pihak
Indonesia. alasannya adalah Republik Indonesia waktu itu sudah berdiri, dan
Tentara Keamanan Rakyat TKR juga telah dibentuk sebagai pasukan negara. Selain
itu, banyak organisasi perjuangan bersenjata yang telah dibentuk masyarakat,
termasuk di kalangan pemuda, mahasiswa dan pelajar yang menentang masuknya
kembali pemerintahan Belanda yang memboncengi kehadiran tentara Inggris di
Indonesia.
Serangan-serangan
berskala besar, yang diawali dengan pengeboman udara ke gedung-gedung
pemerintahan Surabaya, dan kemudian mengerahkan sekitar 30.000 infanteri,
sejumlah pesawat terbang, tank, dan kapal perang, mulai dilancarkan oleh
tentara Inggris pada 10 November 1945. Dentuman meriam dari laut dan darat
terdengar di Kota Surabaya. Yang membuat pasukan dan milisi Indonesia tidak
tinggal diam. Begitu juga dengan penduduk sipil lainnya.keterlibatan penduduk
sipil ini mengakibatkan ribuan penduduk sipil jatuh menjadi korban dalam
serangan ini.
Tokoh
Masyarakat seperti Bung Tomo yang berpengaruh besar di masyarakat terus
menggerakan semanagt perlawanan pemuda-pemuda Surabaya sehingga perlawanan
terus berlanjut di tengah serangan skala besar Inggris. Sehingga pertempuran
yang diperkirakan Inggris akan selesai selama 3 hari. Nyatanya, pertempuran ini
mencapai tiga minggu sebelum seluruh kota Surabaya akhirnya jatuh di tangan
pihak Inggris.
Setidaknya
6,000 - 16,000 pejuang dari pihak Indonesia tewas dan 200,000 rakyat sipil
mengungsi dari Surabaya. Korban dari pasukan Inggris dan India kira-kira
sejumlah 600 - 2000 tentara. Pertempuran berdarah di Surabaya yang memakan
ribuan korban jiwa tersebut telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh
Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan.
| Bung Tomo merupakan salah satu pemimpin revolusioner Indonesia yang paling dihormati. |
2.2 Palagan Ambarawa
20
Oktober 1945, datanglah tentara Sekutu di bawah pimpinan Brigadir Bethell yang
mendarat di Semarang bemaksud untuk mengurus tawanan perang dan tentara Jepang
di Jawa Tengah. Sekutu ini diboncengi oleh NICA. Pada walnya mereka disambut
baik oleh Gubernur Jawa Tengah Mr. Wongsonegoro sehingga Sekutu berjanji tidak
akan mengganggu kedaulatan Republik Indonesia.
Lain
perkataan lain yang dilakukan, mereka mempersenjatai para tawanan Belanda di
Ambarawa dan Magelang yang telah mereka bebaskan. Hal ini yang memicu
terjadinya pertempuran. Bahkan di Magelang tentara Sekutu mencoba melucuti
Tentara Keamanan Rakyat dan membuat kekacauan. TKR Resimen pimpinan Letkol.
M.Sarbini membalas tindakan tersebut dengan mengepung tentara Sekutu dari
segala penjuru. Kemudian Pasukan Sekutu meninggalkan Magelang secara diam-diam
menuju benteng Ambarawa . Terpiculah Resimen Kedu Tengah di bawah pimpinan
Letkol. M. Sarbini untuk melakukan pengajaran terhadap mereka. Pasukan
Indonesia di bawah pimpinan Letkol Isdiman berusaha membebaskan dua desa di
sekitar Ambarawa yang dikuasai Sekutu. Namun Letkol Isdiman gugur terlebih
dahulu. Sehingga turunlah ke lapangan Komandan Divisi V Banyumas, Kol.
Soedirman. Kol. Soedirman memberikan koordinasi diantara komando-komando sektor
dan pengepungan terhadap musuh. Siasatnya adalah serangan pendadakan serentak
di semua sektor. Bala bantuan terus mengalir Yogyakarta, Solo, Salatiga,
Purwokerto, Magelang, Semarang dan lain-lain.
Pada
tanggal 11 Desember 1945,
Kol. Soedirman mengadakan rapat dengan para Komandan Sektor TKR dan Laskar.
Pada tanggal 12 Desember 1945
jam 04.30 pagi, serangan mulai dilancarkan. Pembukaan serangan dimulai dari
tembakan mitraliur terlebih dahulu, kemudian disusul oleh penembak-penembak
karaben. Pertempuran berkobar di Ambarawa. Satu setengah jam kemudian, jalan
raya Semarang-Ambarawa dikuasai oleh kesatuan-kesatuan TKR. Pertempuran
Ambarawa berlangsung sengit. Kol. Soedirman langsung memimpin pasukannya yang
menggunakan taktik gelar supit udang, atau pengepungan rangkap dari kedua
sisi sehingga musuh benar-benar terkurung. Suplai dan komunikasi dengan pasukan
induknya diputus sama sekali. Setelah bertempur selama 4 hari, pada tanggal 15 Desember 1945 pertempuran berakhir dan Indonesia berhasil merebut Ambarawa dan Sekutu dibuat
mundur ke Semarang.
|
Peta strategi Supit Urang
|
Tahukah kamu?Arti nama “Supit Urang”Supit Urang adalah nama strategi perang yang digunakan oleh Kolonel Soedirman untuk mengusir Sekutu dari Ambrawa. Nama Supit Urang berasal dari bahasa pewangan yang artinya kepungan. Jadi, strategi Supit Urang itu digunakan untuk mengepung Sekutu. Strategi ini berhasil menyingkirkan Sekutu dari Ambarawa
2.3. Peristiwa Bandung Lautan Api
Peristiwa
Bandung Lautan Api merupakan bagian dari sejumlah peristiwa heroik yang terjadi
di hampir seluruh daerah di tanah air
untuk menolak penjajahan kembali tanah air Indonesia oleh Belanda. Pada 29 November 1945 para milisi dan pejuang kemerdekaan Republik Indonesia harus menyerahkan
senjata yang rampasan mereka dan apabila
ultimatum penyerahan tersebut tidak laksanakan tentara Sekutu akan mengambil
tindakan militer untuk menegakkan tujuan tersebut. Peringatan ini tidak
dihiraukan oleh pihak tentara Republik. Oleh karena
persenjataan yang tidak memadai, pasukan TKR dan para pejuang lainnya tidak
dapat mempertahankan Bandung Utara. Akhirnya Bandung Utara dikuasai oleh
tentara Sekutu.
Pada
tanggal 26 November 1945 Inggris mengultimatum warga Bandung untuk mengosongkan
wilayah Bandung Utara. Ultimatum tersebut mendapat banyak perlawanan di seluruh
penjuru kota Bandung. Tanggal 17 maret 1946 sekutu kembali mengeluarkan
ultimatum kedua yaitu militer Indonesia diperintahkan untuk mundur 11 KM dari
wilayah Bandung Selatan dan tidak boleh melakukan pengrusakan. Rakyat,
pemerintah sipil dan polisi tidak perlu mundur. A.H. Nasution (pemimpin divisi III
tentara keamanan rakyat atau TKR komandemen I Jawa Barat)langsung melaporkan
tentang ultimatum tersebut kepada Sutan Syahrir, beliau berkata para pejuang di
Bandung tidak akan menerima ultimatum tersebut karena pada akhirnmya rakyat
akan mengikuti tentara. Syahrir memerintahkan A.H. Nasution untuk tidak melawan
Belanda dan menyerahkan Bandung. Namun A. H. Nasution tidak sependapat dengan
Syahrir dan memilih untuk membumihanguskan Bandung.
Setelah
keputusan tersebut diambil A.H. Nasution langsung memerintah semua warga
Bandung untuk meninggalkan Bandung dan pasukan TRI. Bandung sengaja dibakar
oleh TRI dan rakyat setempat dengan maksud agar Sekutu tidak dapat menggunakan
Bandung sebagai markas strategis militer. Asap mengepul di langit Bandung,
semua listrik mati. Tentara Inggris mulai menyerang sehingga pertempuran sengit
terjadi. Pertempuran yang paling besar terjadi di Desa Dayeuhkolot, sebelah selatan
Bandung, di mana terdapat gudang amunisi besar milik
Tentara Sekutu. Dalam pertempuran ini Muhamad Toha dan Ramdan,
dua anggota milisi BRI (Barisan Rakjat Indonesia) terjun dalam misi untuk
menghancurkan gudang amunisi tersebut. Muhammad Toha berhasil meledakkan gudang
tersebut dengan dinamit.
Gudang besar itu meledak dan terbakar bersama kedua milisi tersebut di
dalamnya. Demi keselamatan Staf pemerintahan kota Bandung , maka pada pukul
21.00 itu juga ikut dalam rombongan yang mengevakuasi dari Bandung. Sejak saat
itu, kurang lebih pukul 24.00 Bandung Selatan telah kosong dari penduduk dan TRI.
Pembumihangusan Bandung tersebut dianggap merupakan strategi yang tepat dalam Perang Kemerdekaan Indonesia karena
kekuatan TRI dan milisi rakyat tidak sebanding dengan kekuatan pihak Sekutu dan
NICA yang berjumlah besar. Setelah peristiwa tersebut, TRI bersama milisi
rakyat melakukan perlawanan secara gerilya dari luar Bandung.
2.4. Serangan Umum 1 Maret
Serangan
Umum 1 Maret 1949 ialah serangan yang dilaksanakan pada tanggal 1 Maret 1949
terhadap kota Yogyakarta secara besar-besaran. Serangan ini direncanakan &
dipersiapkan oleh jajaran tertinggi militer di wilayah Divisi III/GM III dengan
mengikutsertakan beberapa pucuk pimpinan pemerintah sipil setempat berdasarkan
instruksi dari Panglima Besar Sudirman.Tujuannya adalah untuk membuktikan
kepada dunia internasional bahwa TNI masih ada & cukup kuat, sehingga
dengan demikian dapat memperkuat posisi Indonesia dalam perundingan yang sedang
berlangsung di Dewan Keamanan PBB dengan maksud utama untuk mematahkan moral
pasukan Belanda serta membuktikan pada dunia internasional bahwa Tentara
Nasional Indonesia [TNI] masih mempunyai kekuatan untuk mengadakan perlawanan.
Soeharto pada waktu itu sebagai komandan brigade X/Wehrkreis III turut serta
sebagai pelaksana lapangan di wilayah Yogyakarta. Kurang lebih satu bulan
sesudah Agresi Militer Belanda II yang dilancarkan pada bulan Desember 1948,
TNI mulai menyusun strategi guna melakukan pukulan balik terhadap tentara
Belanda yang dimulai dengan memutuskan telepon, merusak jalan kereta
api, menyerang konvoi Belanda, serta tindakan sabotase lainnya.
Tanggal 1 Maret
1949, pagi hari, serangan secara besar-besaran yang serentak dilakukan di
seluruh wilayah Divisi III/GM III dimulai, dengan fokus serangan ialah Ibukota
Republik, Yogyakarta, serta koar-besaran oleh pasukan Brigade X yang diperkuat
dengan satu Batalyon dari Brigade IX, sedangkan serangan terhadap pertahanan
Belanda di Magelang & penghadangan di jalur Magelta-kota di sekitar
Yogyakarta, terutama Magelang, sesuai Instruksi Rahasia yang dikeluarkan oleh
Panglima Divisi III/GM III Kolonel Bambang Sugeng kepada Komandan Wehrkreis I,
Letkol Bahrun & Komandan Wehrkreis II Letkol Sarbini. Pada saat yang bersamaan,
serangan juga dilakukan di wilayah Divisi II/GM II, dengan fokus penyerangan
ialah kota Solo, guna mengikat tentara Belanda dalam pertempuran agar tak dapat
mengirimkan bantuan ke Yogyakarta. Walaupun, tentara Belanda dari Magelang
dapat menerobos hadangan gerilyawan Republik, & sampai di Yogyakarta
sekitar pukul 11. 00. Pos komando
ditempatkan di desa Muto. Pagi hari sekitar pukul 06. 00, sewaktu sirene
dibunyikan serangan segera dilancarkan ke segala penjuru kota. Dalam
penyerangan ini Letkol Soeharto langsung memimpin pasukan dari sektor barat
sampai ke batas Malioboro.
Sektor Timur
dipimpin Ventje Sumual, sektor selatan & timur dipimpim Mayor Sardjono,
sektor utara oleh Mayor Kusno. Sedangkan untuk sektor kota sendiri ditunjuk
Letnan Amir Murtono & Letnan Masduki sebagai pimpinan. TNI berhasil
menduduki kota Yogyakarta selama 6 jam. Tepat pukul 12. 00 siang, sebagaimana
yang telah ditentukan semula,seluruh pasukkan TNI mundur.
3.
Perjuangan Diplomasi
3.1 Linggarjati
Untuk
menghentikan tembak menembak antara RI-Belanda maka mulai 10 November 1946
diadakan perundingan Linggarjati (ditandatangani 25 Maret 1947) yang berisi:
1.
Belanda mengakui secara de facto wilayah RI atas Jawa, Sumatera dan Madura
2.
RI-Belanda akan membentuk NIS dengan nama RIS
3.
RI-Belanda akan membentuk Uni Indonesia-Belanda dan Ratu Belanda sebagai
ketuanya.
4.
belanda harus meninggalkan wilayah RI selambat-lambatnya 1 Januari 1949
Belanda
melanggar perjanjian tersebut dan melakukan Agresi Militer I pada tanggal 21
Juni 1947 sehingga mendapat reaksi PBB. Penghentian tembak menembak dilakukan 1
Agustus 1947 dan Dewan Keamanan PBB membentuk KTN (Komisi Tiga Negara) yang
anggotanya adalah:
1.
Australia (Wakil Indonesia) : Richard Kirby
2.
Belgia (Wakil Belanda) : Paul van Zeeland
3.
USA (netral) : Dr. Frank Graham
3.2 Renville
Anggota
KTN tersebut membantu pihak RI-Belanda untuk mengadakan perundingan di atas
geladak Kapal Amerika USS RENVILLE ( 8 Desember 1947 ) dan ditandatangani
tanggal 17 Januari 1948 yang isinya:
1.
belanda mengakui wilayah RI yang sedang di duduki (Yogyakarta)
2.
TNI harus hijrah ke daerah RI
3.
RI merupakan bagian dari RIS
4.
Dalam jangka eaktu lebih kurang enam bulan sampau satu tahun akan diadakan
pemilu untuk membentuk dewan konstitusi RIS
Namun
tidak semua masyarakat Indonesia menyetujui isi perjanjian tersebut, seperti SM
Kartosuwiryo yang mendirikan DI / TII, Pemberontakan PKI Madiun ( Muso ) 1948.
Belanda bertekad untuk menghapus RI dan menghancurkan kekuatan TNI. Untuk iti
Belanda melakukan Agresi militer II tanggal 19 desember 1948. Belanda menyerbu
Yogyakarta dan menawan presiden dan wapres serta pemimpin politik lainnya.
Sebelum itu presiden sempat mengirimkan kawat pada Syafrudin Prawiranegara
untuk membentuk PDRI di Sumatera. Apabila tidak sanggup maka diserahkan pada
Sudarsono, AA Maramis dan LN Palar untuk membentuk pemerintah pelarian RI di
India.
3.3 Roem Royen
Pada
tanggal 28 Januari 1948 DK PBB memutuskan penghentian operasi militer Belanda
dan para pemimpin RI yang ditawan harus dikembalikan. Pada tanggal 14 April
1949 diadakan perjanjian ROOM ROYEN di bawah pengawasan UNCI ( perubahan dari
KTN ) dan pada tanggal 7 Mei 1949 terjadi kesepakatan:
Pernyataan
Delegasi Indonesia
1.
Menghentikan perang gerilya
2.
bekerjasama mengembalikan keamanan
Pernyataan
Delegasi Belanda
1.
Menyetujui pengembalian pemerintahan RI ke Yogyakarta
2. Menghentikan operasi militer
serta membebaskan para pemimpin RI dan selekasnya mengadakan KMB
3.4 Konferensi Meja Bundar
KMB
dilaksanakan di DENHAAG ( Negeri Belanda ) pada tanggal 22 Agustus 1949 - 29
Oktober 1949 dengan hasil keputusan:
1. Belanda
menyerahkan kedaulatan RI kepaa RIS
2. Antara RIS dan Belanda akan diadakan hubungan Uni
Indonesia-Belanda yang dikepalai oleh ratu Belanda
3. Tentara Belanda akan ditarik mundur dan
tentara KNIL dibubarkan
4.Masalah Irian
Barat akan dibicarakan setahun setelah penyerahan kedaulatan.
Pada
tanggal 27 Desember 1949 dilakukan penyerahan kedaulatan oleh Belanda kepada
RIS yang wilayahnya bekas kekuasaan Belanda tanpa Irian Barat.
Penyerahan
kedaulatan dilakukan di tiga tempat antara lain:
1. Amsterdam, dilakukan oleh Ratu
Belanda kepada PM RIS
2. Yogyakarta, dilakukan oleh
Pemerintah RI pada pemerintah RIS
3.
Jakarta, dilakukan oleh Wakil Tinggi Mahkota Belanda kepada RIS
Pembentukan
Negara RIS ( 16 negara bagian ) berdasarkan isi KMB ternyata tidak disetujui
oleh masyarakat Indonesia dan dengan tegas mereka menuntut dibubarkannya RIS
dan kembali pada Negara Kesatuan RI mengingat Bahasa, bendera maupun hari Nasional
sama dengan RI. Berdasarkan hasrat dan desakan Rakyat Indonesia maka pada
tanggal 17 Agustus 1950 RIS dibubarkan dan dibentuk NKRI dan saat itu juga
Konstitusi RIS diganti dengan UUD Sementara RI dan bangsa Indonesia segera
memasuki era baru yaitu Demokrasi Liberal.
0 komentar:
Posting Komentar