Selasa, 17 Maret 2015

“Seperti kota Bandung yang sudah lupa... (8 Maret 2015)


“Seperti kota Bandung yang sudah lupa bentuk danau purba, seperti diriku yang sudah lupa rasanya jatuh cinta...”
Hiruk pikuk kota yang padat akan aktifitas manusia. Sungguh membedakan kota bandung kini dan dahulu. Bencana pernah menghilangkan suatu peradaban yang pernah ada di tempat ini. seiring berjalan waktu peradaban baru kembali muncul dan terus berkembang. Hingga kini. Hingga suatu peradaban yang semakin berkembang ini sudah tidak tahu apa itu hidup selaras dengan alam. Asap kendaraan, pabrik, dan sisa pembakaran lainnya mengepul di atas langit danau purba ini. membuatnya sudah tidak dapat dipredikisi lagi kapan ia akan menitikan airnya atau akan memancarkan sengatan panas mentari.
Tidak seperti dahulu lagi dimana burung-burung menari menari di langit karena oksigen yang baik. Hasil proses fotosintesis dedaunan dari berbagai macam tumbuhan di bawah langit itu membuat para kupu-kupu menari cantik disekitar bunga-bunga yang tumbuh berbagai macam. Warna kupu-kupu itu berada dengan warna bunga-bunga yang diitarinya sehingga menghasilkan perpaduan warna yang sangat apik.
Apa aku harus selalu kembali ke masa lalu untuk merasakan keindahan . Adakah keindahan yang dapat tercipta di masa yang akan datang? Langit apakah ada?
Seperti aku seperti Langit hanya tau masa lalu dan masa kini tak tau apa yang akan terjadi di masa depan mari kita saksikan saja Langit...
.

“Aku bisa melihatmu lebih dekat... (1 Maret 2015)



“Aku bisa melihatmu lebih dekat walaupun masih tetap sangat jauh jarak antara kita... ”
Rasanya ingin aku berteriak, ingin aku berbicara, ingin aku lakukan apa yang ingin aku lakukan padamu. Tapi suasananya berbeda, kini sudah tak memungkinkan lagi. Tersendat saat aku melihatmu. Apa yang ingin aku lakukan, aku tak bisa lakukan.
Langiiiiiittt... rasanya ingin aku berteriak saat aku berada di ketinggian yang tentunya lebih mendekatkanku padamu. Tapi sayang belum sempat aku meneriakimu karena kondisi yang tak memungkinkan.
Berada di laut dangkal 27 juta tahun lalu. Lebih mendekatkanku padamu. Membayangkan kesaksianmu 27 tahun lalu itu langit. Langit, apakah kau masih sama? Apakah kau masih ingat apa yang terjadi 27 tahun lalu itu? Bagaimana perubahannya? Sangat berubahkan? Pasti sangat berubah. Tentunya kadang kau tersenyum saat keadaan di bawah sini lebih baik. Begitu sebaliknya kau akan menangis saat melihat di bawah sini sedang tidak baik. Walaupun dibawah sini. Mereka tak peduli apa yang kau rasakan. Tangismu. Senyummu. Mereka tak tahu. Mereka tak peduli.
Begitupun aku ini. tak langsung memang. Tapi dari kejauhan aku selalu memperhatikannya. Perubahannya. Kondisinya. Apa lebih baik atau lebih buruk. Sama sepertimu aku akan tersenyum atau sebaliknya. Dia mungkin tak peduli, dia mungkintak tau. Tapi akupun tak menuntut dia peduli, akupun tak menuntut dia tau. Cukup kau saja yang tau Langit. Aku mengandalkanmu atas kesaksianmu.
Gunung Tampomas bagian dari Kars Rajamandala itu terus menerus digerus hingga dapat lenyap. Proses penggerusannya dapat berlangsung lama atau cepat.Tergantung teknologi yang digunakan. Dahulu menambang batuan kapur dari gunung itu menggunakan alat sederhana sehingga prosesnya sangat lama hanya dapat diambil sedikit-sedikit saja. Namun sekarang karena adanya kemajuan teknologi mempengaruhi cepatnya proses penambangan batu kapur itu. Contohnya dengan menggunakan dinamit batu itu dapat cepat diambil dengan bongkahan yang besar-besar. lalu diolah untuk kebutuhan masyrakat yang lebih luas lagi. Kemajuan teknologi ini berdampak buruk karena semakin cepat pengeksploitasian batu kapur ini semakin cepat pula akan habis dan tidak ada yang tersisa sebagai bukti peninggalan purbakala. Keasrian dan keindahnya sudah hampir punah.
Andaikan batuan kapur itu kenangan. Dengan alat sederhana atau manual  dapat digerus perlahan-lahan. Tetapi ,aku ingin menemukan “teknologi yang canggih” untuk melenyapkannya. Biarkanlah. Biarkanlah tak ada yang tersisa dari kenangan bagian kars kehidupanku itu. Khususnya gunung kenangan bersama dia. Jika kemajuan teknologi untuk menggerus batuan kapur akan berdampak buruk. Mungkin, “teknologi yang canggih” untuk menggerus kenangan akan berdampak baik. Mungkin. Tapi entahlah langit aku tak bisa meyakini itu. Dan juga aku belum menemukan “teknogi yang canggih” itu.
1 Maret 2015 (Stone Garden)

‘Tidak perlu banyak kata... (28 Feb 2015)



‘Tidak perlu banyak kata. Karena mulut kadang banyak berdusta. Serahkan semua pada yang bersaksi. Atas apa yang terjadi.’
Langit Danau Purba kembali merintikan airnya. Bahkan langit juga tahu isi hatiku. Menangis. Ya ingin aku menangis saat itu.
Aku tak mau membohongi orangtuaku, mereka yang membiayaiku. Aku akan lebih mengikuti apa kata mereka. Daripada meneruskan hubungan ini...
Hanya itu alasanmu...?
Ya hanya itu.
Masih sayang dan cintakan sama aku..?
Iya.
Oke kalo memang hanya itu alasanmu, aku dukung kamu. Akku bangga memiliki kekasih yang menuruti orangtuanya. Kalo memang Cuma itu dan kamu masih sayang sama aku. Aku akan menunggumu.. “
Lalu sekarang apa yang harus aku katakan? Saat temanku mengatakan bahwa dia sudah memiliki wanita lain. Aku sudah tidak memiliki hak untuk melarangnya. Aku sudah bukan siapa-siapa dia lagi. Langit. Kaulah saksinya tepatnya tiga bulan yang lalu. Saat dia meyakinkanku hanya itu alasannya dia menyudahi hubungan kita. Hanya karena dia tidak mau membohongi orangtuanya.  Dan aku menghargainya. Aku menerima keputusannya karena aku pikir benar hanya itu. Hanya itu Langit. Tapi sekarang ? dia memiliki wanita lain? Lalu? Bagaimana dengan komitmen dia yang tidak mau membohongi orangtuanya? Pantaskah aku masih menunggunya?  Prinsip yang aku hargai itu, sekarang hanya terkenang sebagi dusta belaka.  Langit kuserahkan saja padamu. Karena aku tau kau pasti tau. Apa yang sebenarnya terjadi di bawahmu. Di bawah langit danau purba.

“Seperti langit seperti itulah rasaku..(28 feb 2015)



“Seperti langit seperti itulah rasaku. Seperti Danau Purba yang kini telah banyak berubah, namun langitnya masih tetap sama. Seperti kamu yang kini sudah banyak berubah , namun rasaku akan tetap sama”
Setiap tahunnya puluhan ribu mahasiswa dan pekerja datang ke kota ini untuk melanjutkan studi di Perguruan Tinggi terbaik di Nusantara, atau untuk mengadu nasib mencari penghidupan yang lebih baik. Itulah kawasan Cekungan Bandung...
Salah satu dari mahasiswa itulah  yang setidaknya pernah menjadi bagian dari sejarahku. Mengisi-ngisi beberapa hariku di bawah langit danau purba. Sempat memberikan harapan, sempat berkomitmen, sempat selalu bersama. Walau kini mahasiswa itu mungkin sudah melupakan apa yang aku sebut kenangan itu. Entahlah. Ku serahkan pada langit menyaksikan. Semoga tercapai cita-cita mu hai mahasiswa. Semoga kau bisa ,elalui hidupmu dengan baik. Jika masih sanggup aku akan menunggumu. Langit danau purbalah saksinya.