‘Tidak perlu banyak kata. Karena
mulut kadang banyak berdusta. Serahkan semua pada yang bersaksi. Atas apa yang
terjadi.’
Langit Danau Purba kembali
merintikan airnya. Bahkan langit juga tahu isi hatiku. Menangis. Ya ingin aku
menangis saat itu.
“Aku tak mau membohongi orangtuaku, mereka yang membiayaiku. Aku akan
lebih mengikuti apa kata mereka. Daripada meneruskan hubungan ini...
Hanya itu alasanmu...?
Ya hanya itu.
Masih sayang dan cintakan sama aku..?
Iya.
Oke kalo memang hanya itu alasanmu, aku dukung kamu. Akku bangga
memiliki kekasih yang menuruti orangtuanya. Kalo memang Cuma itu dan kamu masih
sayang sama aku. Aku akan menunggumu.. “
Lalu sekarang apa yang harus aku
katakan? Saat temanku mengatakan bahwa dia sudah memiliki wanita lain. Aku
sudah tidak memiliki hak untuk melarangnya. Aku sudah bukan siapa-siapa dia
lagi. Langit. Kaulah saksinya tepatnya tiga bulan yang lalu. Saat dia
meyakinkanku hanya itu alasannya dia menyudahi hubungan kita. Hanya karena dia
tidak mau membohongi orangtuanya. Dan
aku menghargainya. Aku menerima keputusannya karena aku pikir benar hanya itu.
Hanya itu Langit. Tapi sekarang ? dia memiliki wanita lain? Lalu? Bagaimana
dengan komitmen dia yang tidak mau membohongi orangtuanya? Pantaskah aku masih
menunggunya? Prinsip yang aku hargai itu,
sekarang hanya terkenang sebagi dusta belaka.
Langit kuserahkan saja padamu. Karena aku tau kau pasti tau. Apa yang
sebenarnya terjadi di bawahmu. Di bawah langit danau purba.
0 komentar:
Posting Komentar