Sabtu, 02 Mei 2015

Soedirman Teladan Pemuda Indonesia

Jenderal Soedirman Panglima Besar di Usia Muda Teladan bagi Pemuda Indonesia
Oleh : Fidya Faridah Kutsum
Pendahuluan
Tidak satu pun orang di Indonesia luput dari seorang Jenderal yang bernama Soedirman. Sebagai pahlawan nasional namanya digunakan sebagai nama jalan di berbagai kota. Patung setinggi 6 meter di tengah hiruk pikuk keramaian ibu kota juga sudah tidak asing lagi dari pandangan masyarakat Indonesia. Cerita tentangnya tertulis di buku teks Sekolah Dasar himgga Sekolah Menengah. Sedikit yang tergambarkan tentang Soedirman di buku tersebut. Soedirman sebagai panglima tentara yang pertama, pemimpin yang bertanggung jawab, dan bergirlya dalam kondisi sedang sakit.
Soedirman bukan satu-satunya pemuda yang dapat menjadi teladan di Indonesia sebagai pahlawan zaman revolusioner. Ia adalah satu diantara banyak pemuda yang memiliki peran penting dalam sejarah berdirinya Indonesia. Sebagai pemuda Soedirman aktif dalam organisasi, kegiaatan sosial, dan karirnya berlanjut menjadi seorang guru, kepala sekolah, prajurit PETA dan berakhir sebagai panglima besar. Perjalanan karirnya yang tidak cukup panjang namun memiliki arti penting dan sarat akan nilai-nilai positif yang dapat menginspirasi pemuda Indonesia.
Sikap kepemimpinan yang bersahaja, disiplin, percaya diri, kerja keras, pantang menyerah, lebih mementingkan orang lain dibandingkan dirinya sendiri. Hal-hal tersebut menjadi sebuah pondasi bagi pribadi yang baik. Sehingga patutlah Jenderal Soedirman sebagi tokoh teladan bagi pemuda Indonesia. Karena untuk membangun suatu bangsa yang baik diperlukan pribadi-pribadi yang baik dalam setiap lapisan masyarakatnya.

Sekilas Biografi Jenderal Soedirman
Jenderal Soedirman lahir di Bodas Karangjati, Purbalingga, Jawa Tengah. Pada tanggal 24 Januari 1916. Sejak kecil Soedirman berada dalam didikan Raden Tjokrosoenarjo Asisten Wedana di Rembang. Beliau mendapat pendidikan formal di HIS (Hollandsch-Inlandsche School) sejak tahun 1923. Kemudian pada tahun 1932 ia masuk ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO, setara dengan sekolah menengah pertama) Wiworotomo, Cilacap, dan lulus tahun 1934.
Saat bersekolah di MULO Soedirman mulai aktif dalam organisasi Muhammadiyah, Hizbul Wathan. Lulus MULO pada tahun 1934, Soedirman sempat melanjutkan pendidikan di Hollanache Indische Kweekschool (HIK) yaitu Sekolah Guru Bantu di Solo Jawa Tengah walaupun tidak tamat dan kembali ke Cilacap. Karirnya berwal menjadi seorang guru di HIS Muhammadiyah Cilacap. Kemudian beliau juga sempat menjadi kepala sekolah di sekolah tersebut. kegiatan berorganisasinya jugalah yang mengenaljkan Soedirman pada seorang pengusaha sukses Sastroatmodjo yang kemudian memperistri Alfiah anak dari Sastriatmdjo.
Pada masa pendudukan Jepang bergabung dengan pasukan PETA. Ia diangkat sebagai daidancho yang ditempatkan di Kroya, Jawa Tengah. Kemudian Pada umur 29 tahun saat negara Indonesia telah terbentuk beliau dipilih sebagai panglima TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Tiga tahun kemudian pangkatnya naik menjadi Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia.
Pencapaian-pencapaiannya dalam memenangkan berbagai perang antara Republik Indonesia dengan Sekutu yang menjadikan beliau sangat berperan dalam usaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Karirnya tidak panjang. Beliau wafat pada tanggal 29 Januari 1950 dalam usia 34 tahun.
Pembangunan pribadi yang baik
Sejak kecil Soedirman diberi pendidikan agama yang sangat baik oleh ayah angkatnya Tjokrosoenarjo. Sebagaimana layaknya masyarakat Indonesia yang dikenal religius, Soedirman sebagai anak desa di Jawa, setiap sore pergi ke surau atau langgar untuk belajar membaca Alquran dan pengetahuan agama Islam. Ia kemudian tumbuh sebagai remaja dan pemuda aktivis dan guru. pendidikan agama yanga sangat kuat tersebutlah yang memberikan pondasi bagi Soedirman.
Sejak di MULO Soedirman aktif dalam kegiatan organisasi. Hizbul Wathan adalah orhanisasi Muhammadiyah yang diikutinya. Di organisasi ini ia menjadi seorang pandu yang disiplin dan bertanggung jawab. Di Hizbul Wathan, Soedirman meraih pencapaian tertinggi sebagai seorang pandu daerah, dari pemimpin Hizbul Wathan cabang Cilacap hingga menjafi Menteri Daerah Banyumas. menurut Saleh Djamhari, pensiunan Pusat Sejarah TNI
"Watak disiplin dan tanggung jawab yang  Soedirman miliki hingga menjadi Panglima Besar awalnya dipupuk di Hizbuln Wathan"
Sehingga dapat terlihat disini peran organisasi dangat penting dalam memupuk jiwa kepemimpinan seseorang. karena dituntut untuk memiliki sikap disiplin dan rasabtanggung jawab. seperti yang dikatakan Zaldy Munir dalam artikelnya Peran dan Fungsi Organisasi Mahasiswa bahwa dengan bmerorganisasi mahasiswa akan berinteraksi dan beraktualisasi, sehingga menjadji pribadi yang kreatif dan dinamis serta dapat lebih bijaksana dalam persoalan yang mereka hadapi.
Pendidikan guru Soedirman di HIK tidak tamat. Namun pertemuannya dengan R. Mohammad Kholil memberikan kesempatan baginya menjadi seorang guru di sekolah dasar HIS Muhammadiyah Cilacap. Dengan kemauan dan kemapuan yang dimiliki Soedirman mampu tampil sebagai guru yang andal dalam menjalankan profesi dan unjuk kerjanya. pada pemilihan kepala sekolah Soedirman ditunjuk sebagai kepala sekolah di HIS Cilacap. Setelah diangkat sebagai kepala sekolah Soedirman sangat komitmen dan berpandangan tegas seperti Ahmad Dahlan dan Ki Hadjar Dewantara, bahwa melalui pendidikan bumiputera yang maju akan dapat mencerdaskan kehidupan masyrakat. 
Kemantapan dan keluasaan wawasan keagamaan ikut berperan dalam kepribadian Soedirman di dalam dinamika kehidupan dan perjuangannya. Setelah dewasa Soedirman dikenal sebagai da'i, pengalamannya di Muhammadiyah yang memberi kepiawaiannyq dakam berdakwah.
Memasuki masa penduduk jepang sebelum bergabung dalam pasukan PETA Soesirman sempat mendirikan sebuah koperasi. Koperasi ini ditujukan untuk membantu mensejahterakan rakyat yang tertindas oleh Jepang. Kedekatan Soedirman kepada masyarakat inilah yang dimanfaatkan Jepang. Ia di tunjuk sebagai penarik upeti karena Badan makanan yang dimilikinya diambil alih oleh Jepang. Alih-alih membantu Jepang ia tetap lebih mengutamakan kebutuhan rakyat terlenih dahulu.
Soedirman sebagai teladan bagi pemuda
Soedirman dikenal sebagai tokoh yang arif dan rendah hati. Beliau sangat mengharhai sesama, demokratis dan bertanggung jawab. Perjalanan hidupnyalah yang memupuk karakter baik dalam dari Soedirman.
Sejak kanak kanak, masa sekolah sampai aktif di organisasi Mummadiyah sebagai pemimpin HW  dan pemuda Muhammadiyah menjadi guru dan kepala sekolah HIS Mummadiyah di Cilacap, sebagai kepala koperasi dan akhirnya sebagai Daidancho PETA telah meletakkan dasar dasar kepribadian, karakter dan membangun jiwa kepemimpinan dalam diri Soedirman.  Dasar-dasar kepribadian itulah yang Soedirman terapkan sebagai seorang Jenderal. Beliau seorang jenderal yang bijaksana, menghargai sesama, bertanggung jawab, tetap tunduk kepada pemimpin negara walaupun beberapa keputusan dan kebijakannya mengecewakan. Beliau keras hati memilih untuk bergerilya dengan sebelah paru-parunya demi kepentingan rakyat Indonesia.
Dasar-dasar kepribadian tersebutlah yang patut diteladani oleh pemuda masa kini agar daoat memimpin dan membangun indonesia lebih baik lagi. karena peran pemuda sangatlah penting dalam pembangunan sebuah bangsa. Jika kita tengok sejarah peran pemudalah yang banyak memberikan perubahan. Menurut Panji Pragiwaksono dalam bukunya Berani Mengubah " hanya ada dua jenis pemuda di dunia mereka yang menuntut perubahan dan mereka yang melakukan perubahan.." tentunya perubahan yang dimaksud adalah perubahan ke arah yang lebih baik. Teladan dari sikap jenderal soedirman dapat diterapkan oleh pemuda Indonesia masa kini untuk melakukan perubahan.

Daftar Pustaka
Pambudi, Punto Eko, dkk. 2012. Soedirman : Seorang Panglim, Seorang Martir. Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia.
AM, Sardiman. 2009. Kepemimpinan Sudirman Dalam Konteks Sosial Kemasyarakatan.  [PDF]. Tersedia di    http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/PENELITIAN%20KEPIMPINAN%20SUDIRMAN%2009.pdf  diakses pada tanggal 22 November 2014 






0 komentar:

Posting Komentar