Jenderal Soedirman Panglima Besar
di Usia Muda Teladan bagi Pemuda Indonesia
Oleh
: Fidya Faridah Kutsum
Pendahuluan
Tidak
satu pun orang di Indonesia luput dari seorang Jenderal yang bernama Soedirman.
Sebagai pahlawan nasional namanya digunakan sebagai nama jalan di berbagai
kota. Patung setinggi 6 meter di tengah hiruk pikuk keramaian ibu kota juga
sudah tidak asing lagi dari pandangan masyarakat Indonesia. Cerita tentangnya
tertulis di buku teks Sekolah Dasar himgga Sekolah Menengah. Sedikit yang tergambarkan
tentang Soedirman di buku tersebut. Soedirman sebagai panglima tentara yang
pertama, pemimpin yang bertanggung jawab, dan bergirlya dalam kondisi sedang
sakit.
Soedirman
bukan satu-satunya pemuda yang dapat menjadi teladan di Indonesia sebagai pahlawan
zaman revolusioner. Ia adalah satu diantara banyak pemuda yang memiliki peran
penting dalam sejarah berdirinya Indonesia. Sebagai pemuda Soedirman aktif
dalam organisasi, kegiaatan sosial, dan karirnya berlanjut menjadi seorang
guru, kepala sekolah, prajurit PETA dan berakhir sebagai panglima besar. Perjalanan
karirnya yang tidak cukup panjang namun memiliki arti penting dan sarat akan
nilai-nilai positif yang dapat menginspirasi pemuda Indonesia.
Sikap
kepemimpinan yang bersahaja, disiplin, percaya diri, kerja keras, pantang
menyerah, lebih mementingkan orang lain dibandingkan dirinya sendiri. Hal-hal
tersebut menjadi sebuah pondasi bagi pribadi yang baik. Sehingga patutlah
Jenderal Soedirman sebagi tokoh teladan bagi pemuda Indonesia. Karena untuk
membangun suatu bangsa yang baik diperlukan pribadi-pribadi yang baik dalam
setiap lapisan masyarakatnya.
Sekilas Biografi
Jenderal Soedirman
Jenderal
Soedirman lahir di Bodas Karangjati, Purbalingga, Jawa Tengah. Pada tanggal 24
Januari 1916. Sejak kecil Soedirman berada dalam didikan Raden Tjokrosoenarjo
Asisten Wedana di Rembang. Beliau mendapat pendidikan formal di HIS (Hollandsch-Inlandsche
School) sejak tahun 1923. Kemudian pada tahun 1932 ia masuk ke Meer Uitgebreid
Lager Onderwijs (MULO, setara dengan sekolah menengah pertama) Wiworotomo,
Cilacap, dan lulus tahun 1934.
Saat
bersekolah di MULO Soedirman mulai aktif dalam organisasi Muhammadiyah, Hizbul
Wathan. Lulus MULO pada tahun 1934, Soedirman sempat melanjutkan pendidikan di
Hollanache Indische Kweekschool (HIK) yaitu Sekolah Guru Bantu di Solo Jawa
Tengah walaupun tidak tamat dan kembali ke Cilacap. Karirnya berwal menjadi
seorang guru di HIS Muhammadiyah Cilacap. Kemudian beliau juga sempat menjadi
kepala sekolah di sekolah tersebut. kegiatan berorganisasinya jugalah yang
mengenaljkan Soedirman pada seorang pengusaha sukses Sastroatmodjo yang
kemudian memperistri Alfiah anak dari Sastriatmdjo.
Pada
masa pendudukan Jepang bergabung dengan pasukan PETA. Ia diangkat sebagai
daidancho yang ditempatkan di Kroya, Jawa Tengah. Kemudian Pada umur 29 tahun
saat negara Indonesia telah terbentuk beliau dipilih sebagai panglima TKR
(Tentara Keamanan Rakyat). Tiga tahun kemudian pangkatnya naik menjadi Panglima
Besar Tentara Nasional Indonesia.
Pencapaian-pencapaiannya
dalam memenangkan berbagai perang antara Republik Indonesia dengan Sekutu yang
menjadikan beliau sangat berperan dalam usaha mempertahankan kemerdekaan
Indonesia. Karirnya tidak panjang. Beliau wafat pada tanggal 29 Januari 1950
dalam usia 34 tahun.
Pembangunan pribadi
yang baik
Sejak
kecil Soedirman diberi pendidikan agama yang sangat baik oleh ayah angkatnya
Tjokrosoenarjo. Sebagaimana layaknya masyarakat Indonesia yang dikenal religius,
Soedirman sebagai anak desa di Jawa, setiap sore pergi ke surau atau langgar
untuk belajar membaca Alquran dan pengetahuan agama Islam. Ia kemudian tumbuh
sebagai remaja dan pemuda aktivis dan guru. pendidikan agama yanga sangat kuat tersebutlah yang
memberikan pondasi bagi Soedirman.
Sejak di MULO Soedirman
aktif dalam kegiatan organisasi. Hizbul Wathan adalah orhanisasi Muhammadiyah
yang diikutinya. Di organisasi ini ia menjadi seorang pandu yang disiplin dan
bertanggung jawab. Di Hizbul Wathan, Soedirman meraih pencapaian tertinggi sebagai
seorang pandu daerah, dari pemimpin Hizbul Wathan cabang Cilacap hingga menjafi
Menteri Daerah Banyumas. menurut Saleh Djamhari, pensiunan Pusat Sejarah TNI
"Watak disiplin dan
tanggung jawab yang Soedirman miliki
hingga menjadi Panglima Besar awalnya dipupuk di Hizbuln Wathan"
Sehingga dapat terlihat
disini peran organisasi dangat penting dalam memupuk jiwa kepemimpinan
seseorang. karena dituntut untuk memiliki sikap disiplin dan rasabtanggung
jawab. seperti yang dikatakan Zaldy Munir dalam artikelnya Peran dan Fungsi
Organisasi Mahasiswa bahwa dengan bmerorganisasi mahasiswa akan berinteraksi
dan beraktualisasi, sehingga menjadji pribadi yang kreatif dan dinamis serta
dapat lebih bijaksana dalam persoalan yang mereka hadapi.
Pendidikan guru Soedirman di
HIK tidak tamat. Namun pertemuannya dengan R. Mohammad Kholil memberikan
kesempatan baginya menjadi seorang guru di sekolah dasar HIS Muhammadiyah
Cilacap. Dengan kemauan dan kemapuan yang dimiliki Soedirman mampu tampil
sebagai guru yang andal dalam menjalankan profesi dan unjuk kerjanya. pada
pemilihan kepala sekolah Soedirman ditunjuk sebagai kepala sekolah di HIS
Cilacap. Setelah diangkat sebagai kepala sekolah Soedirman sangat komitmen dan
berpandangan tegas seperti Ahmad Dahlan dan Ki Hadjar Dewantara, bahwa melalui
pendidikan bumiputera yang maju akan dapat mencerdaskan kehidupan
masyrakat.
Kemantapan dan keluasaan
wawasan keagamaan ikut berperan dalam kepribadian Soedirman di dalam dinamika
kehidupan dan perjuangannya. Setelah dewasa Soedirman dikenal sebagai da'i,
pengalamannya di Muhammadiyah yang memberi kepiawaiannyq dakam berdakwah.
Memasuki masa penduduk
jepang sebelum bergabung dalam pasukan PETA Soesirman sempat mendirikan sebuah
koperasi. Koperasi ini ditujukan untuk membantu mensejahterakan rakyat yang
tertindas oleh Jepang. Kedekatan Soedirman kepada masyarakat inilah yang
dimanfaatkan Jepang. Ia di tunjuk sebagai penarik upeti karena Badan makanan
yang dimilikinya diambil alih oleh Jepang. Alih-alih membantu Jepang ia tetap
lebih mengutamakan kebutuhan rakyat terlenih dahulu.
Soedirman sebagai teladan bagi
pemuda
Soedirman dikenal sebagai
tokoh yang arif dan rendah hati. Beliau sangat mengharhai sesama, demokratis
dan bertanggung jawab. Perjalanan hidupnyalah yang memupuk karakter baik dalam
dari Soedirman.
Sejak kanak kanak, masa
sekolah sampai aktif di organisasi Mummadiyah sebagai pemimpin HW dan pemuda Muhammadiyah menjadi guru dan
kepala sekolah HIS Mummadiyah di Cilacap, sebagai kepala koperasi dan akhirnya
sebagai Daidancho PETA telah meletakkan dasar dasar kepribadian, karakter dan
membangun jiwa kepemimpinan dalam diri Soedirman. Dasar-dasar kepribadian itulah yang Soedirman terapkan
sebagai seorang Jenderal. Beliau seorang jenderal yang bijaksana, menghargai
sesama, bertanggung jawab, tetap tunduk kepada pemimpin negara walaupun
beberapa keputusan dan kebijakannya mengecewakan. Beliau keras hati memilih
untuk bergerilya dengan sebelah paru-parunya demi kepentingan rakyat Indonesia.
Dasar-dasar kepribadian tersebutlah yang patut
diteladani oleh pemuda masa kini agar daoat memimpin dan membangun indonesia lebih
baik lagi. karena peran pemuda sangatlah penting dalam pembangunan sebuah
bangsa. Jika kita tengok sejarah peran pemudalah yang banyak
memberikan perubahan. Menurut Panji Pragiwaksono dalam bukunya Berani Mengubah " hanya ada dua jenis pemuda di dunia mereka
yang menuntut perubahan dan mereka yang melakukan perubahan.." tentunya
perubahan yang dimaksud adalah perubahan ke arah yang lebih baik. Teladan dari sikap jenderal soedirman dapat diterapkan
oleh pemuda Indonesia masa kini untuk melakukan perubahan.
Daftar
Pustaka
Pambudi, Punto Eko, dkk. 2012. Soedirman
: Seorang Panglim, Seorang Martir. Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia.
AM, Sardiman. 2009. Kepemimpinan Sudirman Dalam Konteks Sosial Kemasyarakatan. [PDF]. Tersedia di http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/PENELITIAN%20KEPIMPINAN%20SUDIRMAN%2009.pdf diakses pada tanggal 22 November 2014
0 komentar:
Posting Komentar