Sabtu, 14 November 2015

Definisi berpikir kritis, definisi berpikir kratif, serta tujuan dan manfaatnya.



Definisi berpikir kritis, definisi berpikir kratif, serta tujuan dan manfaatnya.
A.     Definisi Berpikir Kritis
Sebelum kepada definisi berpikir kritis, alangkah lebih baik untuk mengetahui definisi berpikir dan kritis itu sendiri. Berpikir menurut Dewey dalam Hasan (1995: 190) dimulai apbila seseorang dihadapkan pada sesuatu masalah (perplexity). Ia menghadapi sesuatu yang menghendaki adanya jalan keluar. Situasi yang menghendaki adanya jalan keluar tersebut, mengundang yang bersangkutan untuk memanfaatkan pengetahuan, pemahaman, atau keterampilam yang sudah dimilikinya. Kemudian untuk memanfaatkan pengetahuan, pemahaman, keterampilan yang sudah dimilikinya, terjadi suatu proses tertentu di otaknya sehingga ia mampu menemukan sesuatu yang tepat dan sesuai untuk digunakan mencari jalan keluar terhadap masalah yang dihadapinya. Dengan demikian yang bersangkutan melakukan proses yang dinamakan berpikir. Dapat dikatakan tidak ada suatu proses berpikir  yang tidak diawali oleh suatu masalah yang dipertanyakan (Hasan, 1995: 190).
Sedangkan kata kritis berasal dari bahasa Yunani yaitu kritikos an kriterion. Kata kritikos  berarti ‘pertimbangan’ sedangkan kriterion mengandung makna ‘ukuran baku’ atau ‘standar’. Sehingga secara  etimologi, kata kritis mengandung makna pertimbangan yang didasarkan pada suatu ukuran baku dan standar. Kritis menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sikap tidak lekas percaya, selalu berusaha menemukan kesalahan atau kekeliruan, tajam dalam penganalisan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kritits merupakan suatu sikap atau tindakan dimana seseorang tidak menerima begitu saja apa yang ia dapatkan, namun mempertanyakan kembali sesuatu tersebut, dengan melkaukan pertimbangan-pertimbangan.
Sehingga jika dikaitkan antara definisi berpikir dan definisi kritis, maka berpikir kritis dapat diartikan sebagai suatu proses bagaimana seseorang memanfaatkan pengetahuan, pemahaman, atau keeterampilan yang sudah dimilikinya untuk memecahkan suatu permasalahan dengan memberi pertimbangan dengan menggunakan ukuran atau standar tertentu.
Sedangkan menurut Chaffe (Suriadi, 2006) mendefinisikan berpikir kritis adalah berpikir untuk menyelidiki secara sistematis proses berpikir itu sendiri. Maksudnya, tidak hanya memikirkan dengan sengaja. Tetapi juga meneliti bagaimana kita dan orang lain menggunakan bukti dan logika. Dengan berpikir kritis memungkinkan annak menganalisis pemikiran sendiri untuk memastikan bahwa ia telah menemukan pilihan dan menarik kesimpulan secara cerdas.
Norris mendefinisikan berpikir kritis sebagai pengambilan keputusan secara rasional apa yang diyakini dan dikerjakan. Sedangkan menurut Ennis, berpikir kritis adalah berpikir rasional dan reflektif yang difokuskan pada apa yang diyakini dan dikerjakan. Rasional berarti memiliki keyakinan dan pandangan yang didukung oleh bukti standar, aktual cukup, dan relavan. Dan reflektif berarti mempertimbangkan secara aktif, tekun dan hati-hati segala alternatif sebelum mengambil keputusan.
Menurut Strander (1992) berpikir secara kritis menantang individu untuk menelaah asumsi tentang informasi terbaru dan untuk menginterpretasikan serta mengevaluasi uraian dengan tujuan mencapai kesimpulan atau perspektif baru.
Sehingga dari definisi-definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa berpikir kritis merupakan suatu tindakan dimana seseorang melakukan pertimbangan dengan keyakinan dan perspektifnya dalam proses berpikirnya. Dengan berpikir kritis seseorang tidak menerima begitu saja informasi yang ia peroleh namun mengevaluasi kembali dan mengemukakan interpretasinya dengan rasionalisasi yang ia miliki.
B.     Definisi Berpikir Kreatif
Menururt Haylock kreativitas secara umum sebagai paham yang secara luas meliputi gaya kognitif, kategori-kategori pekrjaan dan jenis-jenis hasil karya. Cropley mengemukakan paling sedikit ada dua cara dalam menggunakan istilah kreativitas. Pertama kreativitas yang mengacu pada jenis tertentu berpikir atau fungsi mental, atau disebut berpikir divergen. Kedua, kreativitas dipandang sebagai pembuatan prodku-produk yang dianggap kreatif seperti karya seni, arsitektur, atau musik. Dan untuk pembelajaran di sekolah menurut Cropley bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk memperoleh ide-ide khususnya yang asli, bersifa penemuan baru.
Haris dalam artikelnya mengatakan bahwa kreativitas dapat dipandang sebagai suatu  kemampuan, sikap, dan proses. Sebagai suatu kemampuan kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan ide-ide baru dengan mengkombinasikan, mengubah atau menerapkan kembali ide-ide yang telah ada. Sebagai sikap kreativitas adlah kemampuan diri untuk melihat perubahan dan kebaruan, suatu keinginan untuk bermain dengan ide-ide dan kemungkinan-kemungkinan, kefleksibelan pandangan, sifat menikmati kebaikan, sambil mencari cara untuk memperbaikinya. Sedangkan kreativitas aebagai proses adalah suatu kegiatan terus menerus memperbaikiide-ide dan solusi-solusi dengan membuat perubahan yang bertahap dan memperbaiki karya-karya sebelumnya.
Sehingga dapat disimpulan bahwa berpikir kreatif adalah suatu proses berpikir yang mengahasilkan banyak ide-ide yang berguna dalam menemukan penyelesaian masalah. Pehkonen (1997:65) mendefinisikan berpikir kreatif sebagai kombinasi antara berpikir logis dan berpikir divergen yang didasarkan pada intuisi tetapi msih dalam kesadaran. Berpikir kreatif yaitu dimana seseorang memiliki pandangan lain yang berbeda dari yang telah ada sebelumnya dalam proses berpikirnya. Bepikir kreatif menjadikan seseorang tersebut menceteskan ide-ide baru dalam pemacahan masalah.
C.     Manfaat dan Tujuan Berpikir Kritis
Menurut Ennis (1996) mengemukakan berpikir kritis adalah suatu proses yang bertujuan untuk membuat keputusan rasional  yang diarahkan untuk memutuskan apamah meyakkini atau melakukan sesuatu. Dari definisi tersebut dapat dikatakan bahw atujuan berpikir kritis difokuskan ke dalam pengertian sesuatu yang penuh kedaran mengarah kepada suautu tujuan. Tujuan dari berpikir kritis akhirnya memungkinkan untuk membuat keputusan.
Elaine Johnson (20020 beroendapat bahwa berpikir kritis adalah proses murni kegiatan otak atau mentality yang bertujuan untuk memecahkanmaslah, mengambil keputusan, bertujuan mengajak atau persuasof, menganalisa suatu anggapan, sertamelakukan penelitian ilmiah.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa tujuan dari berpikir kritis adalah untuk menemukan kesimpulan dan keputusan yang bermanfaat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Beberapa manfaat berpikir kritis diantaranya sebagai berikut:
1.      Memiliki banyak alterbatif jawaban dan ide kreatif
Berpikir kritis dapat melati seseorang memlikikemampuan untuk berpikir jernih dan rasional. Berpikir kritis dapat membuat seseorang memiliki banyak alternatif jawaban serta ide ide kreatif. Artinya seseorang tersebut tidak hanya terpaku pada satu jalan keluar tau penyelesaian , tetapi memiliki banyak pilhan terhadap penyelesaian suatu maslah.
2.      Mudah memahami sudut pandang orang lain
Berpikir kritis membuat pikiran dan otak seseorang menjadi lebih fleksibel, dengan begitu mudah memahami sudut pandang orang lain. Dalamberpendapat atau berpikir tidak kaku dan hanya terpatok pada pemikiran sendiri saja.
3.      Sering menemukan peluang baru
Berpkir kritis dapat membuat pikiran seseorang lebih tajam dalam menganalisa suatu masalah atau keadaan. Situasi ini sangat penting, karena dalam menemukan peluang dibutuhkan pikiran yang tajam serta mampu menganlisa peluang yang ada pada suatu keadaan.
4.      Meminimalkan salah presepsi
Berpikir kritis dapat meminimalkan salah presepsi, dengan berpikir kritis seseorang akan mencari kebenaran akan suatu informasi yang ia dapatkan sehingga ia tidak menerima begitu saja. Hal ini dapat meminimalkan salah presepsi dimana salah presepsi sering ditimbulakan karena seseorang hanya menerima saja informasi yang ia peroleh tanpa mempertanyakan kembali kebenarannya.

Sumber:
Hasan, S. Hamid. 1995.Pendidikan Ilmu Sosial. Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan Tenaga Akademik
____. 2015. 7 Manfaat Berpikir Kritis dan Metode Mencapainya. [Online]. Tersedia di http://www.ciputra-uceo.net/blog/2015/3/9/7/7-manfaat-berpikir-kritis-dan-metode-mencapainya
____.2010.Berpikir Kritis (Critical Thinking). [PDF]. Tersedia di http://fk.uns.ac.id/static/file/criticalthinking.pdf
____. 2011. BAB II Kerangka Teoitis, A. Kreativitas dan Berpikir Kreatif. [PDF]. Tersedia di http://digilib.unimed.ac.id/public/UNIMED-Master-22874-809171025/BABII
Lambertus.2009.Pentingnya Melatih Keterampilan Berpikir Kritis dalam Pembelajaran Matematika di SD. [PDF]. Tersedia di http://forumkependidikan.unsri.ac.id/userfiles/Artikel%20Lambertus-UNHALU-OKE.pdf

Sabtu, 02 Mei 2015

: Fidya Faridah Kultsum
1301280
Mata Kuliah: Sejarah Perekonomian
Tugas : Sistem perekonomian di Kesultanan Mataram
Dosen : Dr. Erlina Wiyanarti, M.pd
KESULTANAN MATARAM
 Kesultanan Mataram adalah kerajaan Islam di Pulau Jawa  yang berdiri sekitar abad XVI dengan raja pertamanya adalah Raden Danang Sutawijaya yang diberi gelar panembahan Senapati. Kerajaan ini merupakan kerajaan yang besar di Jawa yang daerahnya meliputi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Perluasan daerah Mataram dilakukan oleh Senapati yaitudengan penaklukan-penaklukan dan penyerangan-penyerangan sehingga Pajang, Demak dan Pati bersatu di bawah komando Mataram. Begitupun dengan Madiun yang juga dapat ditaklukan.
Kesultanan Mataram adalah kerajaan yang terletak di pedalaman Jawa pada masa kekusaan Senapati pusat pemerintahannya berada di Mentaok wilayah yang kira-kira terletatk di timur Yogyakarta.
PEREKONOMIAN DI MATARAM
Melalui Sultan Agung, Mataram mampu menjadi kerajaaan besar yang tidak hanya dibangun atas pertumpahan darah dan kekerasan, namun melalui kebudayaan rakyat yang adiluhung dan mengenalkan sistem-sistem pertanian. Negeri-negeri pelabuhan dan perdagangan seperti Surabaya dan Tuban dimatikan sehingga kehidupan rakyat bergantung pada sektor pertanian (Adji,2012: 113).
Pada tahun 1619, Agung menaklukan Tuban,salah satu unsur terpenting dari persekutuan Surabaya. Hal ini juga memberinnya kekuasaan atas daerah-daerah pantai yang terpenting yang menghasilkan kayu jati bagi pembangunan kapal (Ricklefs,2008: 85).
Karena wilayahnya yang berada di pedalaman, sumber ekonomi kerajaan Mataram adalah pada bidang pertanian dan hasil hutan. Komoditas terpenting dari Mataram adalah beras dan kayu jati.
Pada masa pemerintahan Sultan Agung dan Amangkurat I kota Jepara menjadi ibu kota dari pesisiran wetan Bagi Jepara beras adalah bahan ekspor yang paling penting. Oleh sebab itu Wedana Bupati Jepara lebih banyak memusatkan perhatiannya terhadap  ekspor bahan ini, terlebih karena ekspor beras merupakan salah satu monopoli raja. Dalam hal impor wedana-bupati  pun mempunyai suara yang menentukan. Ia yang memerintahkan barang apa yang perlu dimasukkan yang bisa memenuhi kebutuhan dan selera di daerahnya (Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Susanto, 1993: 160-161).
Sebelum kerajaan Mataram berdiri, kerajaan-kerajaan besar di Jawa seperti Majapahit dan Kediri  tidak hanya berkuasa dalam perdagangan dan di lautan melainkan juga mendapatkan kekuasaannya  dan kekayaanya terutama karena dasar pertanian mereka, cukai-cukai dan pekerjaan dari penduduk tani. Yang menjadi pokok di negara-negara ini ialah pertanian. Namun perdagangan dan pelayaran juga menjadi sangat penting karenanyalah Jawa mempunyai hubungan dengan peradaban-peradaban di Asia lainnya.  Setelah pertengahan abad ke-16 menculah kerajaan Mataram dibagian selatan Jawa Tengah. Daerah ini sedikit sekali menerima peradaban jawa timur dan pesisir karena terbelakang dan masih terdiri dari dusun-dusun. Kemudian pada akhir abad ke 16 kerajaaan-kerajaan kecil dipersatukan oleh Mataram menjadi sebuah negara yang besar. Mataram berusaha mencapai kekuasaan di seluruh Jawa, tetapi ditentang oleh raja-raja pesisir (Burger,1962 :55-56).
Karena adanya pertentangan antara kerajaan Mataram dan daerah-daerah pesisir terjadilah peperangan-peperangan  sejak awal abad XVII. Pada saat itu kota-kota pantai diserbu dan dihancurkan. Seperti, demak, Pasuruan, Lasem, Tuban Gresik, Madura,dan  Surabaya. Adapun peperangan tersebut mengakibatkan banyak saudagar-saudagar Jawa secara besar-besaran ke Makassar dan Banjarmasin. Perdagangan rempah-rempah orang-orang Jawa pindah ke kota-kota tersebut. Dan oleh karena itu pula akses perdagangan orang Jawa yakni, menjadi tempat yang dilalui untuk pengangkutan rempah-rempah dari Maluku dan  menjadi pengekspor bahan makanan sudah tidak dilakukan lagi. Kemungkinan perubahan dan kepindahan jalur perdagangan itu ada hubungannya dengan keadaan politik Mataram.  Karena di tahun 1641 dan tahun 1646 ada berita yang mengatakan bahwa  raja Mataram melarang rakyatnya melakukan perdagangan laut. Perdagangan luar negeri hanya dapat dijalankan dengan persetujuan raja Mataram antara lain dengan membentuk monopoli beras kerajaan. Orang-orang swasta yang berani mengekspor beras dijatuhi hukuman. Tindakan-tindakan tersebut dimaksudkan, monopoli kerajaan ini ditujukan pada VOC karena Batavia dalam perbekalan makanan tergantung pada Mataram (Burger,1962 :57-58).
Seperti yang dinyatakan Prof. Dr.D. H. Burger dalam bukunya Sedjrah Ekonomis Sosiologis Indonesia tersebut bahwa kerajaan Mataram yaitu sejak  pemerintah Sultan Agung (1613-1645) menjadikan pusat perekonomian Jawa hanya terpusat pada pertanian saja sehingga raja-raja pesisir yang ditaklukan oleh Mataram sangat menentang Mataram.
Sultan Agung pada masa awal pemerintahannya ketika menerima utusan VOC, Rijckloff van Goens, mengatakan bahwa ia bukan seorang pedagang seperti Sultan Banten . Di sini jelas ada perbedaan nilai antara kerajaan agraris yang penghasilannya terutama didasarkan atas hasil pertanian dan hasil hutan, dengan kerajaan pesisir  yang sebagian besar penghasilannya tergantung pada pelayaran dan perdagangan (Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Susanto, 1993: 130-131)
Tujuan monopoli beras oleh kerajaan dan pelarangan pelayaran terhadap perdagangan beras swasta yang dilakukan oleh pemerintah Mataram adalah untuk menghalangi perkembangan perekonomian kaum bangsawan  di daerah pesisir sehingga mereka tunduk pada pemerintahan Mataram. Akibat dari monopoli beras tersebut menjadikan orang-orang Jawa dalam tahun 1657 tidak dapat mengurus sendiri pengiriman beras ke Batavia (Burger, 1962: 59).
Hubungan Sultan Agung dengan VOC sejak semula memang sulit. VOC sangat membutuhkan beras Jawa, sehingga mengharapkan dapat dilakukannya perdagangan dengan daerah-daerah pantai pengekspor beras. Akan tetapi peperangan-peperangan yang dilakukan Sulta Agung menghancurkan tanaman padi, dan pada 1618, ketika terjadi kekurangan dia melarang penjualan beras kepada VOC (Ricklefs,2008: 88).
Namun pada masa kekuasaan Amangkurat I pemerintahannya mengadakan perjanjian dengan VOC. Isi perjanjiannya yang dibuat pada tahun 1646 itu antara lain : pihak VOC  diizinkan membuka pos-pos dagang di wilayah Mataram. Sedangkan pihak Mataram diizinkan berdagang ke pulau-pulau lain yang dikuasai VOC (Adji,2012: 118).
Dimulainya lagi perdagangan Jawa-VOC di daerah pesisir telah mengakibatkan timbulnya suatu krisis internal baru di Jawa. Barang-barang yang dibutuhkan VOC, terutama beras dan kayu adalah hasil daerah pesisir. Sehingga para pengusaha, pedagang, dan pejabat-pejabat di daerah pesisir utaralah yang memperoleh sebagian besar keuntungan dengan berlangsungnya lagi perdagangan ini, sehingga yang diperoleh Raja rupanya kurang dari yang diinginkan. Oleh karena itu, Amangkurat I mulai melakukan pengawasan yang semakin ketat terhadap daerah pesisir. Pada tahun 1652, dia melarang sama sekali ekspor beras dan kayu. Dia memberi tahu pihak Belanda bahwa tindakan tersebut bukanlah langkah yang ditujukan terhadap mereka tetapi terhaap Banten, dan mereka dapat memperoleh beras dengan jalan mengutus seorang duta untuk merundingkan jemlah dan harganya.
Usaha-usaha Amangkurat I untuk menguasai daerah pesisir dan keinginannya memonopoli perdagangan dengan VOC tentu saja saling berkait erat. Dia tampaknya mempunyai empat tujuan pokok : (1) menjamin supaya pajak dari perdagangan daerah pesisir langsung ke istana; (2) menegakan kembali hubungan-hubungan ‘vasal’ VOC yang menurut keyakinannya telah ditetapkan di dalam perjanjian tahun 1946; (3) menerima hadiah-hadiah VOC yang dapat meningkatkan kemegahan dan keagungan istananya, misalnya kuda Persia, dsb; dan (4) menerima uang VOC untuk merngankan kekurangan dana yang kronis di kerajaannya. Tujuan-tujuan ini dapat tercapai jika otonomi daerah pesisir runtuh dan memaksa VOC untuk melakukan semua transaksi secara langsung dengan istana (Ricklefs,2008: 157-158).
Dapat disimpulkan, dari sumber-sumber diatas. Bahwa sistem perekonomian Kesultanan Mataram terpusatkan pada pertanian dan perhutanan dengan kurang memperhatikan perdagangan melalui pelayaran atau hubungan dagang di luar Mataram. Karena adanya monopoli yang dilakukan oleh kerajaan. Adapun, hubungan dagang yang dilakukan dengan VOC semata-mata karena adanya kepentingan politik. Seperti yang telah diuraikan di atas bahwa raja mementingkan dirinya saja sehingga timbul pernyataan Amangkurat I kepada utusan Belanda dari VOC Rijklof van Goens Sunan menerangkan bahwa rakyatnya tidak memiliki hak atas kemakmuran, bahwa dia tidak perlu mengindahkan kemakmuran karena ia berpikir kekuasaannya akan terancam jika rakyatnya makmur (Burger,1962 :56).






Daftar Pustaka
Adji,Krisna Bayu. 2012. Raja-Raja Jawa :Dari Kalingga Hingga Kesultanan Yogyakarta, Yogyakarta: Araska.
D. H. Burger. 1962. Sedjarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, Jakarta: Negara.
Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto. 1993. Sejarah Nasional Indonesia III, Jakarta: Balai Pustaka.
M.C. Ricklefs. 2008. Sejarah Nasional Indonesia 1200-2008, Jakarta: Serambi.



Pengertian Sejarah Kebudayaan

oleh Fidya Faridah K
Departemen Pendidikan Sejarah UPI
2014

Pengertian Sejarah
Menurut Edward Hallet Carr (dalam Ismaun 2005: 15) sejarah adalah suatu proses interaksi berkelanjutan antara sejarawan dengan fakta-fakta yang ada padanya, suatu dialog yang tiada henti antara masa lampau dan masa sekarang.
Menurut Henry Stelee Comagger (dalam Ismaun 2005: 16) sejarah merupakan rekaman keseluruhan tentang masa lampau (kesusastraan, hukum, bangunan, pranata sosial, agama, filsafat, dan semua yang teringat dalam memori manusia).
Sehingga sejarah dapat dikatakan sebagai peristiwa yang benar-benar terjadi mencakup segala aspek kehidupan manusia di masa lampau yang memiliki kesinambungan dengan masa sekarang.
Pengertian Kebudayaan
1.      Menurut Koentjaraningrat
Menurut Koentjaraningrat (2000:181) kebudayaan dengan kata dasar budaya berasal dari bahasa sangsakerta ”buddhayah”, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti “budi” atau “akal”. Jadi Koentjaraningrat, mendefinisikan budaya sebagai “daya budi” yang berupa cipta, karsa dan rasa, sedangkan kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa dan rasa itu.
Sehingga kebudayaan juga dapat dikatakan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia dengan  belajar (Koentjaraningrat, 1990 : 180).


2.      Menurut Prof. Harsoyo
Inti kebudayaan adalah:
1.      Kebudayaan yang terdapat di dalam masyarakat berbeda antara satu dengan yang lain.
2.      Kebudayaan itu dapat diteruskan dan diajarkan
3.      Kebudayaan itu dijabarkan dari komponen-komponen biologis, psikologis, sosiologis, dan eksistensi manusia.
4.      Kenudayaan itu berstruktur mempunyai cara atau aturan tertentu
5.      Kebudayaan terbagi dari berapa aspek-aspek baik sosial maupun psikologis
6.      Kebudayaan itu selalu bersifar dinamis dan berubah
7.      Nilai-nilai dalam kehidupan itu bersifat relatif antara masyarakat yang satu berbeda dengan masyarakat lainnya.

3.      Menurut Tylor
Menyatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks yang didalamnya meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, kesusilaan, adat istiadat, serta kesanggupan dan kebiasaan lainnya yang mempelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat.

4.       Menurut Ki hajar Dewantara
Ki Hajar Dewantara, menyatakan bahwa kebudayaan adalah buah dari manusia, yang merupakan hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, alam dan jaman (kodrat dan masyarakat) yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran di alam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya besipat tertib dan damai.

5.       Soedjatmoko, mengemukakan kebudayaan adalah penjelmaan manusia dalam penghadapannya dengan lingkungan alam dan sosialnya dengan ruang dimana ia hidup dan dalam penghadapannya dengan waktu, peluang dan pilihan, kesinambungan dan perubahan, serta sejarah (Soedjatmoko 1985).

Sehingga dapat dikatakan kebudayaan merupakan hasil cipta, karsa, dan rasa manusia dari segala aspek kehidupan manusia, dimana gagasan untuk menciptakan hasil tersebut sebagai penyesuaian dirinya terhadap lingkungan alam dan sosialnya.

Pengertian Sejarah Kebudayaan

Menurut Prof. Soekmono dalam bukunya Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia I (1973, 14), menyebutkan bahwa Sejarah Kebudayaan merupakan sejarah yang mempelajari mengenai kebudayaan-kebudayaan di waktu yang lampau dalam pertumbuhan dan perkembangannya dari masa ke masa baik berupa benda maupun peninggalan berupa harta kerohanian.

Dalam bukunya Sejarah Sebagai Ilmu  Prof. Ismaun memaparkan bahwa dalam kajiannya sejarah kebudayaan mencakup segala aspek perikehidupan dalam masyarakat manusia dari masa ke masa. Sehingga sejarah kebudayaan diartikan sejarah umum yang mengintegrasikan semua aspek itu yaitu politik, ekonomi, sosial, filsafat, agama, kesenian, dan lain-lain.
Sejarah kebudayaan dalam pengertian sejarah umum menganalisis gejala-gejala sejarah untuk memahami hubungan antara berbagai aspek:
1.      Melacak waktu suatu masa dalam sintesis kondisi-kondisi ekonomi, sosial, politik, dan lain-lain;
2.      Berusaha memahami peralihan dari suatu periode ke periode berikutnya;

Jadi jika dikaitkan pengertian kebudayaan yang telah diuraikan sebelumnya dengan hakikat sejarah sebagai suatu kesinambungan dan perubahan yang dilakukan manusia. Maka sejarah kebudayaan adalah perubahan hasil dari cipta, karsa dan rasa manusia dari masa ke masa. Perubahan penciptaan suatu kebudayaan yang dilakukan manusia adalah untuk menjawab kebutuhan dan tantangan zaman.
Dimana kajian sejarah kebudayaan yaitu mengenai berbagai aspek kehidupan manusia karena semua aspek-aspek tersebut merupakan hasil karya, rasa, cipta manusia. Serta memahami bagaimana dan penyebab terjadinya peralihan atau pembentukan kebudayaan-kebudayaan yang berbeda-beda dari setiap zaman.





























Daftar Pustaka


Ahmad, Zhein. (2011) Teori Kebudayaan. [Online]. Tersedia di http://ayhie13.wordpress.com/culture/teori-kebudayaan/. [Diakses 7 September 2014]
Ismaun. (2005) Sejarah Sebagai Ilmu. Bandung: Historia Utama Press.
Ridwan, Muhammad. (2012) Pengertian Kebudayaan Menurut para Ahli Barat dan Indonesia. [Online]. Tersedia di http://senseleaf.blogspot.com/2012/03/pengertian-kebudayaan-menurut-para-ahli.html . [ Diakses 7 September 2014]
Satriya, I Gede Ida Selamet. (2012) PENGERTIAN KEBUDAYAAN. [Online]. Tersedia di http://kojingtechnolog.wordpress.com/2011/09/04/pengertian-kebudayaan/ [Diakses 7 September 2014].
Soekmono, R. (1973) Pengantar Sejarah Kebudayaan Jilid I. Yogyakarta: Kanisius



Soedirman Teladan Pemuda Indonesia

Jenderal Soedirman Panglima Besar di Usia Muda Teladan bagi Pemuda Indonesia
Oleh : Fidya Faridah Kutsum
Pendahuluan
Tidak satu pun orang di Indonesia luput dari seorang Jenderal yang bernama Soedirman. Sebagai pahlawan nasional namanya digunakan sebagai nama jalan di berbagai kota. Patung setinggi 6 meter di tengah hiruk pikuk keramaian ibu kota juga sudah tidak asing lagi dari pandangan masyarakat Indonesia. Cerita tentangnya tertulis di buku teks Sekolah Dasar himgga Sekolah Menengah. Sedikit yang tergambarkan tentang Soedirman di buku tersebut. Soedirman sebagai panglima tentara yang pertama, pemimpin yang bertanggung jawab, dan bergirlya dalam kondisi sedang sakit.
Soedirman bukan satu-satunya pemuda yang dapat menjadi teladan di Indonesia sebagai pahlawan zaman revolusioner. Ia adalah satu diantara banyak pemuda yang memiliki peran penting dalam sejarah berdirinya Indonesia. Sebagai pemuda Soedirman aktif dalam organisasi, kegiaatan sosial, dan karirnya berlanjut menjadi seorang guru, kepala sekolah, prajurit PETA dan berakhir sebagai panglima besar. Perjalanan karirnya yang tidak cukup panjang namun memiliki arti penting dan sarat akan nilai-nilai positif yang dapat menginspirasi pemuda Indonesia.
Sikap kepemimpinan yang bersahaja, disiplin, percaya diri, kerja keras, pantang menyerah, lebih mementingkan orang lain dibandingkan dirinya sendiri. Hal-hal tersebut menjadi sebuah pondasi bagi pribadi yang baik. Sehingga patutlah Jenderal Soedirman sebagi tokoh teladan bagi pemuda Indonesia. Karena untuk membangun suatu bangsa yang baik diperlukan pribadi-pribadi yang baik dalam setiap lapisan masyarakatnya.

Sekilas Biografi Jenderal Soedirman
Jenderal Soedirman lahir di Bodas Karangjati, Purbalingga, Jawa Tengah. Pada tanggal 24 Januari 1916. Sejak kecil Soedirman berada dalam didikan Raden Tjokrosoenarjo Asisten Wedana di Rembang. Beliau mendapat pendidikan formal di HIS (Hollandsch-Inlandsche School) sejak tahun 1923. Kemudian pada tahun 1932 ia masuk ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO, setara dengan sekolah menengah pertama) Wiworotomo, Cilacap, dan lulus tahun 1934.
Saat bersekolah di MULO Soedirman mulai aktif dalam organisasi Muhammadiyah, Hizbul Wathan. Lulus MULO pada tahun 1934, Soedirman sempat melanjutkan pendidikan di Hollanache Indische Kweekschool (HIK) yaitu Sekolah Guru Bantu di Solo Jawa Tengah walaupun tidak tamat dan kembali ke Cilacap. Karirnya berwal menjadi seorang guru di HIS Muhammadiyah Cilacap. Kemudian beliau juga sempat menjadi kepala sekolah di sekolah tersebut. kegiatan berorganisasinya jugalah yang mengenaljkan Soedirman pada seorang pengusaha sukses Sastroatmodjo yang kemudian memperistri Alfiah anak dari Sastriatmdjo.
Pada masa pendudukan Jepang bergabung dengan pasukan PETA. Ia diangkat sebagai daidancho yang ditempatkan di Kroya, Jawa Tengah. Kemudian Pada umur 29 tahun saat negara Indonesia telah terbentuk beliau dipilih sebagai panglima TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Tiga tahun kemudian pangkatnya naik menjadi Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia.
Pencapaian-pencapaiannya dalam memenangkan berbagai perang antara Republik Indonesia dengan Sekutu yang menjadikan beliau sangat berperan dalam usaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Karirnya tidak panjang. Beliau wafat pada tanggal 29 Januari 1950 dalam usia 34 tahun.
Pembangunan pribadi yang baik
Sejak kecil Soedirman diberi pendidikan agama yang sangat baik oleh ayah angkatnya Tjokrosoenarjo. Sebagaimana layaknya masyarakat Indonesia yang dikenal religius, Soedirman sebagai anak desa di Jawa, setiap sore pergi ke surau atau langgar untuk belajar membaca Alquran dan pengetahuan agama Islam. Ia kemudian tumbuh sebagai remaja dan pemuda aktivis dan guru. pendidikan agama yanga sangat kuat tersebutlah yang memberikan pondasi bagi Soedirman.
Sejak di MULO Soedirman aktif dalam kegiatan organisasi. Hizbul Wathan adalah orhanisasi Muhammadiyah yang diikutinya. Di organisasi ini ia menjadi seorang pandu yang disiplin dan bertanggung jawab. Di Hizbul Wathan, Soedirman meraih pencapaian tertinggi sebagai seorang pandu daerah, dari pemimpin Hizbul Wathan cabang Cilacap hingga menjafi Menteri Daerah Banyumas. menurut Saleh Djamhari, pensiunan Pusat Sejarah TNI
"Watak disiplin dan tanggung jawab yang  Soedirman miliki hingga menjadi Panglima Besar awalnya dipupuk di Hizbuln Wathan"
Sehingga dapat terlihat disini peran organisasi dangat penting dalam memupuk jiwa kepemimpinan seseorang. karena dituntut untuk memiliki sikap disiplin dan rasabtanggung jawab. seperti yang dikatakan Zaldy Munir dalam artikelnya Peran dan Fungsi Organisasi Mahasiswa bahwa dengan bmerorganisasi mahasiswa akan berinteraksi dan beraktualisasi, sehingga menjadji pribadi yang kreatif dan dinamis serta dapat lebih bijaksana dalam persoalan yang mereka hadapi.
Pendidikan guru Soedirman di HIK tidak tamat. Namun pertemuannya dengan R. Mohammad Kholil memberikan kesempatan baginya menjadi seorang guru di sekolah dasar HIS Muhammadiyah Cilacap. Dengan kemauan dan kemapuan yang dimiliki Soedirman mampu tampil sebagai guru yang andal dalam menjalankan profesi dan unjuk kerjanya. pada pemilihan kepala sekolah Soedirman ditunjuk sebagai kepala sekolah di HIS Cilacap. Setelah diangkat sebagai kepala sekolah Soedirman sangat komitmen dan berpandangan tegas seperti Ahmad Dahlan dan Ki Hadjar Dewantara, bahwa melalui pendidikan bumiputera yang maju akan dapat mencerdaskan kehidupan masyrakat. 
Kemantapan dan keluasaan wawasan keagamaan ikut berperan dalam kepribadian Soedirman di dalam dinamika kehidupan dan perjuangannya. Setelah dewasa Soedirman dikenal sebagai da'i, pengalamannya di Muhammadiyah yang memberi kepiawaiannyq dakam berdakwah.
Memasuki masa penduduk jepang sebelum bergabung dalam pasukan PETA Soesirman sempat mendirikan sebuah koperasi. Koperasi ini ditujukan untuk membantu mensejahterakan rakyat yang tertindas oleh Jepang. Kedekatan Soedirman kepada masyarakat inilah yang dimanfaatkan Jepang. Ia di tunjuk sebagai penarik upeti karena Badan makanan yang dimilikinya diambil alih oleh Jepang. Alih-alih membantu Jepang ia tetap lebih mengutamakan kebutuhan rakyat terlenih dahulu.
Soedirman sebagai teladan bagi pemuda
Soedirman dikenal sebagai tokoh yang arif dan rendah hati. Beliau sangat mengharhai sesama, demokratis dan bertanggung jawab. Perjalanan hidupnyalah yang memupuk karakter baik dalam dari Soedirman.
Sejak kanak kanak, masa sekolah sampai aktif di organisasi Mummadiyah sebagai pemimpin HW  dan pemuda Muhammadiyah menjadi guru dan kepala sekolah HIS Mummadiyah di Cilacap, sebagai kepala koperasi dan akhirnya sebagai Daidancho PETA telah meletakkan dasar dasar kepribadian, karakter dan membangun jiwa kepemimpinan dalam diri Soedirman.  Dasar-dasar kepribadian itulah yang Soedirman terapkan sebagai seorang Jenderal. Beliau seorang jenderal yang bijaksana, menghargai sesama, bertanggung jawab, tetap tunduk kepada pemimpin negara walaupun beberapa keputusan dan kebijakannya mengecewakan. Beliau keras hati memilih untuk bergerilya dengan sebelah paru-parunya demi kepentingan rakyat Indonesia.
Dasar-dasar kepribadian tersebutlah yang patut diteladani oleh pemuda masa kini agar daoat memimpin dan membangun indonesia lebih baik lagi. karena peran pemuda sangatlah penting dalam pembangunan sebuah bangsa. Jika kita tengok sejarah peran pemudalah yang banyak memberikan perubahan. Menurut Panji Pragiwaksono dalam bukunya Berani Mengubah " hanya ada dua jenis pemuda di dunia mereka yang menuntut perubahan dan mereka yang melakukan perubahan.." tentunya perubahan yang dimaksud adalah perubahan ke arah yang lebih baik. Teladan dari sikap jenderal soedirman dapat diterapkan oleh pemuda Indonesia masa kini untuk melakukan perubahan.

Daftar Pustaka
Pambudi, Punto Eko, dkk. 2012. Soedirman : Seorang Panglim, Seorang Martir. Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia.
AM, Sardiman. 2009. Kepemimpinan Sudirman Dalam Konteks Sosial Kemasyarakatan.  [PDF]. Tersedia di    http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/PENELITIAN%20KEPIMPINAN%20SUDIRMAN%2009.pdf  diakses pada tanggal 22 November 2014 






Jumat, 03 April 2015

Cadas Pangeran : Pangeran Kornel dengan Siapa?

Cadas Pangeran Daendels atau bukan?
Pembuatan Jalan Raya Pos
Pemerintahan Herman Wiliam Daendles di Indonesia dimulai pada tahun 1908. Setelah ia diberikan tugas oleh Napoleon Bonaparte untuk menjadi Gubernur Jenderal di Hindia Timur. Infrastruktur yang dibuatnya terutama di Pulau Jawa adalah untuk tujuan militer. Seperti ia membangun pabrik senjata di Surabaya, pabrik meriam di Semarang dan sekolah militer di Batavia. Bahkan proyek besarnya yaitu pembangunan Jalan Raya Pos juga dibangun untuk memudahkan akses tentara-tentaranya bergerak dengan cepat.
Pembangunan jalan raya post mendapatkan kritik yang tajam dari para lawan-lawan Daendles. Menurut lawan-lawan politiknya, ia telah bertindak dengan cara tangan besi ketika menjalankan tugasnya, yang menyebabkan penduduk Hindia Timur menderita, bahkan menimbulkan beberapa pemberontakan.
Keinginan Daendels membangun Jalan Raya Pos yaitu berdasarkan pengalamannya saat menempuh perjalanan ke Jawa melalui jalan darat. Dan diperlukan empat hari untuk menuju ke Batavia si musim hujan. setelah membenahi infrastruktur administrasi pemerintaha di Batavia dan di Hindia Timur Daendels mengatasi kerusahan yang terjadi di Cirebon. Untuk lebih mengetahui permasalhan yang terjadi di Pulau Jawa, Daendels memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Semarang dan Ujung Timur pulau Jawa. Ketika tiba di Semarang inilah Daendels mengeluarkan perintah untuk memperbaiki dan menghubungkan jalan-jalan desa. Pembangunan dimulai bulan Mei 1808.
 Pembangunan jalur Cadas Pangeran yaitu sebagai penghubung Sumedang dan Bandung yang panjangnya kira 3 Km memiliki berbagai kendala yakni terbentur pada kondisi alam yang sulit karena terdiri atas batuan cadas, sedangkan peralatan yang digunakan sangat sederhana sehingga proses pembangunannya pun lama. Bupati Sumedang kala itu yaitu Pangeran Kusumahdinata IX atau dikenal juga dengan nama Pangeran Kornel marah melihat rakyatnya diperlakukan dengan semena-mena untuk menyelesaikan proyek H.W Daendels membangun Jalan Raya Post yang menghubungkan Anyer-Panarukan dan melewati Kabupaten Sumedang tersebut.
Daendels atau bukan?
Yang menjadi fenomenal adalah patung yang dibuat oleh Caltim Pranadjaya, warga Kec. Tomo, Sumedang pada tahun 1987 yang berdampingan dengan prasasti yang dibuat oleh Belanda (dengan Bahasa Belanda kemudian di bahasa Indonesiakan). Yaitu dimana patung tersebut adalah patung dua orang yang sedang bersalaman. orang yang satu memiliki perwujudan pribumi (menak) dan yang satu memiliki perwujudan seorang asing. seorang Belanda itu mengulurkan tangan kanannya dan seorang pribumi itu mengulurkan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya mengenggam sebuah keris. Menurut cerita rakyat patung tersebut adalah Bupati Sumedang pada saat itu yaitu Pangeran Kusumadinata IX dengan julukan pangeran Kornel dan Daendels yang saat itu memprakarsai pembuatan jalan tersebut.
Kisah jabat tangan yang begitu fenomenal ini berawal ketika pangeran kornel datang dan menemui H.W Daendels ditengah proses pembuatan jalan Cadas Pangeran, dikisahkan ketika sang Pangeran datang Daendels mengulurkan tangan kanannya untuk mengajak Pangeran Kornel berjabat tangan, namun yang terjadi adalah Pangeran Kornel mengulurkan tangan kirinya untuk menjabat tangan Daendels tersebut sementara tangan kanannya bersiap menghunus keris pusaka. Lalu pangeran Kornel mengungkapkan kendala-kendala yang dihadapinya.  Kemudian Daendels mengambil kebijakan untuk menyerahkan perataan gunung batu tersebut oleh pasukan Zeni.
Pertanyaannya, apakah benar menurut cerita rakyat bahwa patung tersebut adalah Pangeran Kornel dan Dandels. Cerita tessebut perlu dikritisi kembali. Menurut tradisi administrasi kolonial pejabat tinggi yang mengunjungi suatu tempat akan dicatat kedatangannya, apa saja yang dilakukannya, apa saja yang dibicakannya sampai kembalinya dan jalur mana yang ditempuhnya. Sedangkan peristiwa pertemuan antara Pangeran Kornel dan Daendels ini tidak tertulis dalam arsip mana pun. Begitu juga leksinografi yang menuliskan tentang sejarah Jawa periode 1800-1811  tidak memuat keterangan-keterangn apapun tentang kejadian itu pada tanggal-tanggal tertentu.
Sehingga berdasarkan fakta diatas menurut saya patung yang berwujud orang asing di cadas pangeran itu belum tentu adalah Daendels jika dikaitkan dengan cerita rakyat bahwa Daendels mengunjungi Cadas Pangeran secara langsung. Prasasti yang dibuat juga menuliskan “... 26 November 1811 hingga 12 Maret 1812” sedangkan masa pemerintahan Daendels berakhir di Indonesia pada 16 Mei 1811. Sehingga tidak ditemukan kerelavansian secara temporal antara prasasti tersebut dan masa pemerintahan Daendels. Dan pada pemerintahan Raffles pun tidak tercatat kunjungan Raffles ke wilayah Priangan pada tahun pertama pemerintahannya. Sehingga kemungkinan besar yang diduga adalah Pangeran Kusama Dinata tersebut bertemu dengan pejabat Inggris yang sedang memantau proyek perluasan jalan. Jika dinyatakan itu adalah Daendels kemungkinan pembuat patung hanya menjadikan itu sebuah simbol bahwa seorang bupati pada saat itu tidak ingin rakyatnya ditindak sewenang-wenang oleh seorang yang berkuasa pada saat itu yang memiliki proyek pembangunan jalan yang menyulitkan warga sekitar yaitu Daendels.
Sumber
Sunardi, Dedi. 2011. Pembuatan Patung Pangeran Kornel Disayembarakan. [Online] tersedia di http://www.kabar-priangan.com/news/detail/1019 diakses pada 14 Oktober 2014.
______, 2014. Herman Wiliam Daendels. [Online] tersedia di . http://id.wikipedia.org/wiki/Herman_Willem_Daendels diakses pada 14 Oktober 2014
Marihandono, Djoko. 2008. Mendekontruksi Pembangunan Jalan Raya Cadas Pangeran 1808 : Komparasi Sejarah dan Tradisi Lisan. [Pdf] Tersedia di . http://staff.ui.ac.id/system/files/users/dmarihan/material/artikelcadaspangeran.pdf diakses 14 Oktober 2014.